Dr. Judhistira Aria Utama, M.Si.[1]
Laboratorium Bumi dan Antariksa
Departemen Pendidikan Fisika, Fakultas Pendidikan MIPA, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung
Anggota Tim Perumus Naskah Akademik Kriteria Imkan Rukyat & Bergiat di Konsorsium Rukyat Hilal Hakiki (KRHH)

Ferry Mukharradi Simatupang
Program Studi Astronomi, Fakultas MIPA, Institut Teknologi Bandung (ITB)


Jika merujuk pangkalan data The Islamic Crescent Observation Project (ICOP) yang mendokumentasikan kegiatan pengamatan hilal (fase Bulan sabit pertama pascakonjungsi yang wujud setelah terbenamnya Matahari) di seluruh dunia dalam kurun waktu 1859 hingga 2000, dapat dijumpai satu kondisi yang menyerupai situasi yang akan dihadapi para pemburu hilal di Indonesia pada Kamis petang, 14 Juni 2018 yang akan datang. Data tersebut berupa laporan keberhasilan mengamati hilal secara kasat mata (mata telanjang) oleh Isiaq dari lokasi di dekat khatulistiwa (6° 30’ Lintang Utara, 3° 24’ Bujur Timur) pada 31 Juli 2000 silam. Pada waktu terbaik (best time) pengamatan kala itu, umur Bulan sejak fase Bulan mati atau konjungsi adalah 16,8 jam (sementara di Lhok Nga NAD, dengan koordinat 5° 28’ Lintang Utara, 95° 15’ Bujur Timur, pada 14 Juni 2018 nanti sebesar 16,6 jam), lama Bulan di atas ufuk 36 menit (Lhok Nga, 37 menit), beda tinggi Matahari – Bulan 8,4° (Lhok Nga, 8,6°), dan elongasi 8,6° (Lhok Nga, 9,2°). Kemiripan parameter-parameter Bulan dalam kasus hilal penentu awal Syawal 1439 H dengan yang pernah terjadi dalam kasus di atas, memberikan optimisme tersendiri bahwa umat Muslim Indonesia akan mengakhiri Ramadan dan menyongsong fajar Syawal tahun ini secara serentak.

Dari kalkulasi (hisab) astronomis, fase Bulan mati akan terjadi pada Kamis 14 Juni 2018 pukul 02:44 WIB (= 03:44 WITA, 04:44 WIT). Aktivitas mengamati (rukyat) hilal akan dilakukan pada petang hari yang sama, tidak lama setelah Matahari terbenam. Pada saat Matahari terbenam di suatu tempat, yang ditandai dengan tepi atas piringan Matahari berada di ufuk, tidak serta-merta langit menjadi gelap. Langit masih cukup terang akibat hamburan sinar Matahari oleh atmosfer, yang akan menyulitkan pengamat untuk dapat mengesani sosok hilal yang tipis dan redup dengan modus pengamatan mata telanjang. Dengan semakin dalamnya posisi Matahari di bawah ufuk, langit di ufuk barat pun secara gradual menjadi lebih gelap yang akan membantu pengamat untuk memperoleh kontras yang baik guna mampu mengesani hilal. Dari pengalaman empirik mengamati hilal sejak tahun 1990-an, Sdr. Ibrahim A. Adjie (pendiri dan pegiat astronomi di Konsorsium Rukyat Hilal Hakiki – KRHH), menemukan kaidah sederhana bahwa hilal dapat diamati kasat mata tidak mungkin lebih awal dari (rata-rata) 12 menit pascaterbenamnya Matahari. Kaidah ini dapat dibuktikan bersesuaian dengan prediksi model matematis, bahwa dalam selang waktu sejak terbenamnya Matahari hingga 12 menit setelahnya, kecerahan langit senja masih cukup kuat untuk mengalahkan kecerahan hilal. Mengingat waktu terbenamnya Bulan dalam fase konjungsi berdekatan dengan waktu terbenam Matahari, maka selama masa tunggu langit di dekat ufuk barat menjadi lebih gelap ketinggian Bulan di atas ufuk juga terus berkurang.

Gambar 1: Peta kenampakan (visibilitas) hilal global sebagai fungsi lintang dan bujur geografis pada hari terjadinya konjungsi, 14 Juni 2018. Wilayah yang diarsir warna biru menandai kawasan yang dapat mengamati hilal dengan bantuan alat optik, sementara magenta merupakan kawasan yang berpeluang dapat mengamati hilal dengan mata telanjang (tanpa bantuan alat optik). Sebagian kawasan di bagian barat Indonesia berada dalam arsiran warna ini. Warna hijau untuk kawasan yang dapat mengamati hilal dengan mudah berbekal mata telanjang.

Dalam peta kenampakan hilal global penentu awal Syawal 1439 H yang dibangkitkan menggunakan perangkat lunak Accurate Times 5.3 dari Mohammad Odeh (Gambar 1), sebagian besar wilayah Indonesia berada di arsiran warna biru yang menandai kawasan yang dapat mengamati hilal hanya dengan bantuan alat optik (binokular/teleskop dengan perbesaran sudut tertentu), sementara sebagian pulau Jawa dan seluruh Sumatera merupakan kawasan yang berpeluang dapat mengamati hilal dengan mata telanjang. Bilakah tersedianya jendela waktu mengesani hilal akan diperoleh memanfaatkan model Kastner yang dimodifikasi. Untuk keperluan ini digunakan lokasi Observatorium Tgk. Chiek Kuta Karang Lhok Nga, Nanggroe Aceh Darussalam, mewakili kawasan barat Indonesia yang berpeluang mengamati hilal secara kasat mata. Kurva kenampakan yang dihasilkan ditunjukkan dalam Gambar 2.

Gambar 2: Kurva kenampakan hilal pada hari terjadinya konjungsi, 14 Juni 2018 di Observatorium Tgk. Chiek Kuta Karang, Lhok Nga, Nanggroe Aceh Darussalam.

Berdasarkan Gambar 2, pengamat perlu berkonsentrasi sejak 15 menit pascaterbenam Matahari untuk dapat mengesani hilal di ketinggian ~ 4°. Momentum ini ditandai dengan peralihan dari visibilitas bernilai negatif menuju visibilitas positif, sehingga dapat digunakan untuk menguji kepekaan mata pengamat. Selama ~ 15 menit berikutnya, hilal berpeluang untuk diamati sebelum terbenam pada 19:29 waktu setempat. Berhasil ataupun tidaknya hilal diamati (misal karena kendala cuaca) pada petang hari Kamis 14 Juni 2018 nanti, besar kemungkinan tidak akan mempengaruhi keputusan dalam sidang itsbat di Kementerian Agama, karena parameter-parameter Bulan pada waktu terbenamnya Matahari di seluruh wilayah Indonesia sudah melampaui nilai-nilai minimal bagi syarat teramatinya hilal dalam kriteria yang dirujuk (ketinggian Bulan: > 3° dan  elongasi > 6,4°). Dengan demikian, kondisi ini berpeluang menghasilkan masuknya laporan keberhasilan mengamati hilal untuk dapat disahkan dalam sidang itsbat petang hari tersebut. Selamat Idul Fitri 1439 H. Semoga Allah SWT menerima amaliah Ramadan kita dan menjadikan kita sebagai insan Indonesia yang bertakwa.


[1] Kontak korespondensi: j.aria.utama[at]upi.edu, judhistira[at]yahoo.com