Setiap siswa setara Sekolah Menengah Atas (SMA) khususnya kelas 12 saat ini tengah mempersiapkan diri untuk melewati fase seleksi masuk perguruan tinggi. Tak lain dengan universitas yang kini juga sibuk untuk memberikan informasi terkait fakultas dan program studi yang ada di dalamnya kepada para calon mahasiswanya, seperti halnya Institut Teknologi Bandung (ITB). Pada hari Sabtu lalu (02/02/19) ITB telah menyelenggarakan acara tahunannya, Aku Masuk ITB (AMI). Program ini ditujukan agar siswa mendapatkan gambaran mengenai program studi yang ada di ITB. Target dari acara ini tidak hanya untuk siswa setara SMA melainkan alumni SMA yang memiliki minat untuk melanjutkan studi di ITB.

Secara umum kegiatan ini terbagi menjadi dua, yaitu pameran program studi dan kunjungan laboratorium. Untuk pameran program studi dilakukan di sekitar parkian gedung Labtek VIII hingga Lapangan Cinta. Pameran ini diselenggarakan oleh masing-masing program studi dengan berbagai poster dan alat peraga yang mengindikasikan program studi tersebut. Mekanisme dalam pelaksanaan pameran ini adalah masing-masing program studi mendapatkan stand dan ditempatkan berdampingan dengan program studi lain. Peserta dapat dengan bebas mengunjungi stand program studi yang diminatinya sambil mencari tahu informasi dari masing-masing program studi. Kegiatan pameran dilakukan dari pukul 08.00 – 15.00 WIB. Acara ini juga dimeriahkan oleh panggung pementasan opening dan closing AMI 2019, stand khusus untuk menjual merchandise AMI, sponsor, dan lain-lain.

Gambar 1. Stand Merchandise AMI (Sumber: md)

Gambar 2. Berbagai Stand Merchandise Pengisi Acara AMI (Sumber: md)

Gambar 3. Berbagai Stand Pengisi Acara AMI di (Sumber: md)

Gambar 4. Megaproperti AMI 2019 (Sumber: md)

Gambar 5. Antusiasme Peserta AMI (Sumber: md)

Gambar 6. Panggung AMI 2019 (Sumber: md)

Gambar 7. Stand Astronomi di AMI 2019 (Sumber: md)

Gambar 8. Stand program studi di AMI 2019 (Sumber: md)

Di samping pameran program studi, kegiatan yang satu ini juga tidak kalah penting menarik untuk peserta. Ya, kunjungan laboratorium! Peserta mendapatkan kesempatan untuk mengetahui lebih lanjut terkait suatu program studi dengan mengunjungi laboratoriumnya (khusus untuk program studi yang memiliki laboratorium). Beberapa di antaranya adalah laboratorium fisika, kimia, astronomi, farmasi, serta laboratorium untuk masing-masing program studi teknik. Mekanisme kunjungannya, peserta dibagi ke dalam empat kelompok. Masing-masing kelompok didampingi oleh 3-4 panitia yang bertugas sebagai guide atau pemandu. Setiap kelompok akan diajak berkunjung ke berbagai laboratorium dengan berjalan kaki menyusuri gedung-gedung di ITB. Untuk mempermudah mobilisasi, peserta dibagi menjadi dua banjar, seperti terlihat dalam foto berikut:

Gambar 9. Peserta dan Pemandu AMI 2019 (Sumber: md)

Di Program Studi Astronomi, kunjungan laboratorium tidak dilakukan di Bosscha sebagai tempat mahasiswanya melakukan pengamatan. Hal ini dikarenakan kendala jarak yang cukup jauh dari kampus ITB. Oleh karena itu kunjungan laboratorium dilakukan di gedung Center for Advanced Sciences (CAS) lantai 7, tepatnya di ruang teleskop. Di sana disimpan teleskop portable yang dapat digunakan oleh mahasiswanya untuk melakukan pengamatan. Dalam acara kunjungan laboratorium ini terdapat dua pemateri yang bersedia menjelaskan seluk-beluk Program Studi Astronomi, yaitu Fahmi Iman Alfarizki (Fahmi) dan Nadhilah Mustikarini (Dhilah), mahasiswa astronomi angkatan 2015. Selama kunjungan berlangsung, Fahmi bertugas untuk memaparkan selayang pandang Program Studi Astronomi kepada peserta yang ditampilkan dalam bentuk suatu presentasi. Sedangkan Dhilah bertugas untuk mengoperasikan teleskop. Dikarenakan kunjungan berlangsung pada siang hari, peserta mendapat kesempatan untuk melakukan pengamatan Matahari.

Dalam pemaparan selayang pandang astronomi dibahas mengenai jenis laboratorium astronomi, jenis-jenis teleskop, serta sedikit sejarah terkait berdirnya Observatorium Bosscha. “Laboratorium astronomi yang sebenarnya adalah langit.” Tutur Fahmi sebagai kalimat pembuka dalam pemaparannya. Namun laboratorium yang biasa digunakan oleh mahasiswa astronomi adalah Observatorium Bosscha. Menurut sejarah, Observatorium Bosscha dibangun pada tahun 1923 dan selesai pada tahun 1928. Pada saat itu observatorium ini dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV). Namun penyokong dana terbesar dalam pembangunannya adalah Karel Albert Rudolf Bosscha. Sehingga observatorium ini dinamakan Observatorium Bosscha. Hingga akhirnya pada 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan Obervatorium Bosscha kepada Republik Indonesia.

Di Bosscha, terdapat beberapa jenis teleskop yang digunakan untuk melakukan pengamatan. Teleskop pertama yang merupakan teleskop terbesar di Bosscha bernama Zeiss dengan diameter 60 cm. Lalu ada teleskop Bamberg, Survey Telescope for Exoplanet and Variable star (STEVia), dan teleskop radio. Berbagai riset yang dilakukan di Bosscha meliputi bintang ganda dekat, bintang ganda visual, Matahari, dan lain-lain. Berbicara mengenai teleskop, Fahmi juga menuturkan beberapa jenis teleskop yang digunakan untuk berbagai pengamatan astronomi yang berada di berbagai tempat di dunia, yaitu:

  1. Teleskop Radio dan lain-lain di Arecibo, Puerto Rico dengan diameter 500 m
  2. Teleskop Sofia, merupakan teleskop infra merah milik National Aeronautics and Space Administration (NASA).
  3. Teleskop Keck, merupakan teleskop optik yang terletak di Gunung Mauna Kea, Hawaii dengan diameter 10 m.
  4. Teleskop Ultraviolet yang akan diletakkan di Bulan, saat ini masih dalam proses perakitan.
  5. Teleskop Chandra, merupakan teleskop untuk pengamatan sinar x.
  6. Teleskop Fermi, merupakan teleskop untuk pengamatan sinar gamma.

Gambar 10. Pemaparan Selayang Pandang Astronomi di AMI 2019 oleh Fahmi (Sumber: md)

Teleskop yang dimiliki oleh Program Studi Astronomi pun termasuk ke dalam jenis teleskop optik yang bernama Vixen. Teleskop ini diletakkan di dalam sebuah ruangan dengan atap yang dapat dibuka dan ditutup secara otomatis. Pada saat kunjungan, Dhilah memeragakan pengoperasian teleskop. Peserta sangat antusias memerhatikan selama pengoperasian berlangsung. Setelah teleskop diatur mengarah ke Matahari, secara bergantian peserta mendapat kesempatan mengamati Matahari melalui teleskop.

Gambar 11. Peserta Melakukan Pengamatan Matahari (Sumber: md)

Gambar 12. Peserta Melakukan Pengamatan Matahari Dipandu oleh Dhilah (Sumber: md)

Pameran dan kunjungan laboratorium AMI 2019 sangat memikat perhatian para peserta. Salah satu di antaranya adalah Sultan dan Novita, siswa SMAN 20 Bandung yang mengikuti kegiatan AMI 2019. Menurut Sultan, “Alasan saya mengikuti acara AMI ini karena saya ingin masuk ITB.” Sedangkan menurut Novita, “Acara AMI sangat bermanfaat, khusus untuk kunjugan astronomi ini saya jadi lebih tahu gimana dan di mana sih lab-nya anak astronomi itu ternyata ada di Bosscha dan ga semua yang ada di teleskop itu berwarna-warni.” Selain peserta, mahasiswa astronomi yang menjaga stand program studi di pameran AMI 2019 pun ikut merasakan keseruan acara tersebut. “Hari ini aku jaga stand sama temen-temen aku, stand di AMI. Seru banget acara AMI-nya, ketemu banyak orang. Selain itu memasyarakatkan ilmu astronomi juga. Di sini aku belajar public speaking juga loh! Di mana aku menjelaskan astronomi ke masyarakat juga ke orang-orang yang belum tahu astronomi. Terima kasih, AMI!” Tutur Vaneissya, mahasiswa astronomi angkatan 2017. [md]