Minggu, 3 Oktober 2021, Langitselatan menyelenggarakan webinar umum yang berjudul “Sejarah Semesta: Dari Big Bang Sampai Munculnya Kehidupan di Bumi” dengan pembicara Ferry M. Simatupang, M.Si. Beliau adalah salah satu dosen di Program Studi Astronomi Institut Teknologi Bandung sekaligus Co-Founder Langitselatan. Webinar yang diselenggarakan melalui platform Zoom dan disiarkan secara langsung melalui platform YouTube ini dipandu oleh moderator Avivah Yamani, M.Si. selaku Co-Founder dan Owner Langitselatan.

Webinar ini merupakan salah satu rangkaian acara dalam rangka memeriahkan 100 jam astronomi oleh IAU (International Astronomical Union) Office for Astronomy Outreach. Sehari sebelumnya, Langitselatan juga telah mengadakan webinar anak berjudul “Mengenal Matahari dan Teman-temannya” dan “Membuat Buku Saku Sederhana” dengan pembicara Ajeng Tri Handini, S.Si. dan partisipan yang dibatasi untuk anak berusia s.d 12 tahun.

Pak Ferry mengawali webinar umum ini dengan memberikan pernyataan bahwa berbagai versi kelahiran alam semesta dan asal-usul manusia telah diceritakan di berbagai mitologi dan kebudayaan dari seluruh dunia. Pak Ferry menekankan jika yang dibahas pada webinar ini adalah sejarah alam semesta berdasarkan versi sains.

Untuk memulai cerita versi sains ini, terdapat beberapa tonggak penting yang membangun teori alam semesta, diantaranya teori relativitas umum (1915) oleh Einstein, teori alam semesta mengembang (1922) oleh Friedmann, teori Big Bang (1927) yang versi awalnya dibangun oleh Lemaitre, bukti pengembangan alam semesta (1929) oleh Hubble, dan penemuan radiasi latar belakang CMB (1964) oleh Penzias dan Wilson. Penemuan CMB inilah yang mengukuhkan Teori Big Bang dan memberikan gambaran akan alam semesta.

Pak Ferry menceritakan bagaimana keadaan alam semesta dimulai. Alam semesta kita diawali dengan big bang, namun karena keterbatasan, astronom hanya mampu merunut pada saat 10-43 detik setelah terjadinya big bang, bukan tepat 0 detik saat terjadinya big bang. Pada saat itu, seluruh materi, energi, ruang, waktu dipadatkan dalam suatu “titik” yang sangat kecil, alam semesta berada dalam keadaan yang sangat panas.

Sesaat setelah terjadi big bang, terjadi inflasi, yaitu kondisi ketika alam semesta mengembang dengan kecepatan yang sangat tinggi namun dalam periode yang sangat singkat. Alam semesta terus mengembang dan temperaturnya semakin menurun, ketika energi menurun, terbentuk poton dan neutron yang nantinya akan membentuk atom. Saat energi sudah cukup rendah, foton akhirnya dapat bergerak bebas, energinya turun dan bergeser ke panjang gelombang mikro membentuk radiasi CMB.

Setelah kerapatan alam semesta cukup rendah, alam semesta memasuki cosmic dark ages karena belum ada sumber cahaya yang kita kenal saat ini, yaitu bintang. Hal fundamental yang mendasari kosmologi adalah alam semesta homogen dan isotropis, namun sebenarnya ada inhomogenitas densitas awal yang sangat kecil. Akibat inhomogenitas tersebut, gravitasi menyebabkan material saling runtuh yang membentuk struktur skala besar yang di dalamnya terbentuk pusat keruntuhan yang kelak membentuk bintang-bintang dan galaksi.

Bintang-bintang generasi pertama terbentuk dari hidrogen dan helium. Setelah energinya habis, bintang-bintang tersebut mati membentuk supernova, suatu peristiwa energetik yang menghamburkan unsur-unsur yang lebih berat dari hidrogen dan helium. Unsur-unsur itulah yang melahirkan bintang-bintang generasi berikutnya, sehingga material bintang generasi kedua kaya akan materi berat seperti karbon, nitrogen, fosfor, silikon, dan lain-lain. Material yang sudah diperkaya tersebut memungkinkan untuk terbentuknya planet-planet, termasuk memungkinkan untuk terjadinya kehidupan seperti kehidupan yang kita jalani di Bumi saat ini.

Dari pengamatan supernova, diketahui bahwa alam semesta mengembang semakin cepat yang ternyata disebabkan oleh energi gelap. Pak Ferry menganalogikannya seolah kita hendak membuat nasi goreng, kita tahu bahwa untuk membuat nasi goreng, kita membutuhkan telur, kecap, dan lain-lain, tapi belakangan kita baru tahu jika kita membutuhkan nasi. Ya, belakangan baru diketahui jika 70% komposisi alam semesta kita disusun oleh energi gelap.

Sesi tanya jawab dengan peserta webinar yang dipandu oleh moderator.

“Ujung alam semesta mungkin bukan tempat yang nyaman untuk kita tinggali. Saat ini, kita tinggal di tempat yang nyaman, kita hidup di era yang nyaman. Mari kita nikmati kehidupan kita sekarang dan jangan lupa untuk menjaga lingkungan agar bisa kita nikmati bersama dalam jangka waktu yang lama,” tutup Pak Ferry mengakhiri sesi pemaparannya mengenai sejarah alam semesta. [Beta Miftahul Falah]