Perkembangan astrofisika modern tentunya tidak terlepas dari pengamatan. Terlebih pada awal tahun 1900an, para astronom sedang gencar melakukan pemetaan benda langit secara menyeluruh. Namun pada saat itu sebagian besar pengamatan hanya dilakukan di belahan Bumi utara seperti Eropa dan Amerika Utara. Sedikit sekali pengamatan yang dilakukan di belahan Bumi selatan. Dari sinilah timbul kesadaran dari para astronom untuk membangun observatorium di belahan Bumi selatan.

Kesadaran ini mendorong negara-negara Eropa membangun observatorium di negara koloninya. Termasuk Belanda yang mempunyai koloni di Afrika Selatan dan Hindia Belanda. Namun kesadaran akan urgensi pembangunan observatorium di belahan Bumi selatan ini lebih kuat muncul dari kalangan akademisi secara individu.

(Sumber: Obs. Bosscha)

Tentu kita semua familiar dengan nama Bosscha; seorang saudagar teh di Malabar yang namanya diabadikan sebagai nama observatorium di Lembang. Meski beliau bukan seorang ilmuwan, Karel Albert Rudolf Bosscha lahir dan besar dari keluarga akademisi. Ayahnya, Johannes Bosscha, merupakan seorang fisikawan di Technische Universiteit Delft dan pernah juga menjabat sebagai menteri pendidikan. K.A.R Bosscha sendiri melakukan pembangunan observatorium atas mandat dari sang ayah yang bercita-cita membangun observatorium di belahan Bumi selatan.

Rencana pembangunan observatorium pada saat itu bak gayung bersambut ketika Bosscha bertemu dengan astronom Belanda bernama Joan George Erardus Gijsbert Voûte. Dengan latar belakang sains, Voûte menjadi seseorang yang melakukan pertimbangan ilmiah sekaligus pengambil keputusan dalam proses pembangunan observatorium dilakukan. Hal ini meyangkut kepada pemilihan instrumen apa saja yang akan dipasang di observatorium.

Apabila ditarik mundur ke belakang, tahun 1900an adalah masa di mana disiplin ilmu astrofisika modern baru berkembang dan penelitian mengenai sistem fisis bintang merupakan hal yang sangat seksi pada saat itu. Atas kebutuhan inilah teleskop refraktor ganda dipasang supaya survei terhadap bintang ganda visual bisa dilakukan. Dari pertimbangan ilmiah yang dilakukan oleh Voûte serta korespondesi dengan Jacobus Kapteyn dan Ejnar Hertzsprung diputuskanlah pemasangan teleskop refraktor ganda dengan diamater 0.6 meter dan panjang 11 meter.

Setelah karakteristik teleskop ditentukan, teleskop dipesan langsung kepada Carl Zeiss Jena di Jerman. Pembelian teleskop tersebut meliputi kubah, lantai, dan teleskop utama. Pembangunan dome utama beserta pemasangan kubah dan lantai selesai dibangun pada tahun 1925 dan teleskop Zeiss dipasang dan diresmikan pada 7 Juni 1928.

Kehadiran teleskop refraktor ganda zeiss ini telah memberikan sumbangsih yang berarti bagi perkembangan astrofisika modern di mana saat itu amat gencar dilakukan perhitungan paralaks dan pengamatan bintang ganda.  Voûte, sebagai satu-satunya astronom tetap di Observatorium Bosscha saat itu, sangat aktif dalam melakukan pengamatan. Tercatat beliau melakukan pengamatan seorang diri dalam hitungan ratusan hari dalam satu tahun. Data pengamatan dalam orde ribuan telah dihasilkan dari teleskop refraktor ganda zeiss. Meski tidak seluruh data diolah oleh astronom yang bekerja di Observatorium Bosscha, banyak data yang dikirimkan ke negara lain, terutama negara koloni yakni Belanda dan Afrika Selatan, untuk diolah lebih lanjut.

Selama 90 tahun beroperasi, teleskop refraktor ganda zeiss menghadapi tantangan perubahan zaman. Tercatat teleskop Zeiss telah mengalami modifikasi dari plat fotografi ke teknik pengamatan digital di tahun 1990an. Adaptasi, modernisasi, dan perawatan terus dilakukan untuk menjaga fungsi operasional teleskop Zeiss.

Hal tersebut merupakan salah satu topik yang akan dibahas dalam acara 90 Years of Zeiss Telescope pada tanggal 1 Desember 2019 di Observatorium Bosscha, Lembang. Dalam peringatan 90 tahun teleskop Zeiss ini diundang beberapa astronom yang pernah dan sedang terlibat dalam operasional Observatorium Bosscha. Dalam kesempatan ini tidak hanya membahas potensi yang bisa dilakukan oleh instrumen berusia 90 tahun. Namun juga preservasi langit untuk menghasilkan hasil observasi yang baik sebagai pendukung dari instrumen yang baik pula.

Acara peringatan 90 Years of Zeiss Telescope yang bersifat undangan ini turut mengundang Gubernur Jawa Barat, Pemerintah Daerah, Rektor Institut Teknologi Bandung, dan juga awak media. [sarashanti]