Bulan lalu saya berkesempatan menghadiri Vietnam School of Astrophysics (VSOA) 2018 yang berlangsung dari tanggal 29 Juli hingga 4 Agustus 2018. Perhelatan ini merupakan hasil kerja sama antara Ho Chi Minh City International University, Quy Nhon University, dan Recontres du Vietnam dan telah diadakan untuk keenam kalinya. VSOA 2018 berlangsung di International Center for Interdisciplinary Science and Education (ICISE) yang terletak di pesisir pantai kota Quy Nhon, Vietnam. Lokasi ICISE yang asri dan jauh dari keramaian sangat kondusif sebagai tempat belajar, berdiskusi, dan bertukar pikiran.

Peserta dan pemateri Vietnam School of Astrophysics 2018. [Foto: VSOA committee]

Peserta terdiri dari dua belas orang dimana sepertiganya adalah mahasiswa pascasarjana. Dari kedua belas peserta tersebut hanya satu orang yang berasal dari negara lain selain Vietnam, yaitu saya sendiri. Kedua belas peserta ini kemudian dibagi menjadi empat kelompok yang masing-masing beranggotakan tiga orang. Nantinya kelompok tersebut wajib mengulas isi sebuah jurnal setiap sesi perkuliahan berakhir.

Tema yang diangkat dalam VSOA tahun ini adalah kosmologi. Meski sebagian besar peserta berasal dari program studi fisika, jenjang perkuliahan para peserta amat beragam. Mulai dari tahun kedua program sarjana hingga tahun kedua program magister. Oleh karena itu materi kosmologi diberikan dengan pendekatan fisika teoretik yang paling dasar. Secara umum materi perkuliahan dibagi menjadi tiga bagian.

Pertama, pendahuluan kosmologi. Materi ini disampaikan oleh Prof. Misao Sasaki dari Kyoto University (京都大学) yang telah lama berkecimpung di bidang kosmologi teoretik dan relativitas umum. Pemahaman konsep dasar tentang relativitas umum merupakan bahasan yang disampaikan pada pertemuan pertama.  Dalam tiga pertemuan selanjutnya dibahas model alam semesta Friedmann-Robertson-Walker (FRW) dari sisi kinematika dan juga dinamika.

Meski telah malang melintang dalam bidang fisika teoretik, saat ini Prof. Sasaki juga melakukan riset dalam bidang gelombang gravitasi. Beliau sempat bercerita tentang perkembangan terbaru deteksi gelombang gravitasi baik dari ground base maupun space base. Prof. Sasaki juga menjelaskan bahwa saat ini Jepang sedang membuat interferometer dengan menerapkan teknologi kriogenik pada cermin untuk mengurangi gangguan dari panas. Interferometer tersebut bernama Kamioka Gravitational Wave Detector (KAGRA) dan diperkirakan akan mulai beroperasi pada tahun 2020.

Topik perkuliahan selanjutnya adalah awal Alam Semesta yang disampaikan oleh Prof. Guillaume Patanchon dari  Université Paris Diderot. Beliau menjelaskan sejarah termal Alam Semesta yang juga meliputi proses nukleosintesis hingga pembentukan materi gelap.

Prof. Patanchon yang telah lama menggeluti Cosmic Microwave Background (CMB) adalah salah satu peneliti dalam misi Planck. Dalam sesi terakhir perkuliahannya, Prof. Patanchon menjelaskan tentang bagaimana misi Planck bekerja dan bagaimana para saintis mengumpulkan data, mengolah data, hingga didapatkan citra CMB paling detail beserta beberapa nilai parameter kosmologi. Misi Planck baru saja selesai semenjak mengembara di tahun 2009 dan hasil teranyarnya telah dipublikasikan pada akhir Juli 2018 lalu.

Topik perkuliahan terakhir adalah pembentukan struktur yang disampaikan oleh Prof. Jason Gallichio dari Harvey Mudd College. Beliau menyampaikan konsep dasar teori perturbasi linear juga penerapannya kepada teori inflasi yang menjadi penyebab pertumbuhan struktur.

Sama seperti Prof. Patanchon, Prof. Gallichio saat ini tengah terlibat dalam penelitian CMB. Hanya saja tujuan akhir yang dicari bukanlah presisi parameter kosmologi, melainkan deteksi sinyal polarisasi dari medan magnet (B-mode) pada CMB lewat South Pole Telescope. Apabila sinyal B-mode ditemukan maka kita bisa melacak kembali dan menelaah lebih dalam tentang periode inflasi yang terjadi sesaat setelah Big Bang. Sinyal B-mode sendiri timbul oleh dua sebab, yaitu gelombang gravitasi primordial dari proses inflasi dan pelensaan gravitasi yang terjadi sesaat setelah inflasi.

Pada hari kedua kami melakukan ekskursi singkat ke ExploraScience yang masih berada dalam satu kompleks ICISE. ExploraScience merupakan pusat sains di mana di dalamnya terdapat museum sains dan planetarium. Pembangunannya belum selesai secara paripurna memang. Namun beberapa bagian sudah bisa dikunjungi seperti ruang pameran tentang sejarah Alam Semesta dan ruang alat peraga yang begitu modern dan juga interaktif.

Suasana pantai di belakang gedung ICISE. Foto: Nguyen Dat

VSOA 2018 berlangsung selama enam hari dari pukul delapan pagi hingga pukul lima sore hari. Dengan jumlah peserta yang sedikit, kami hanya menempati satu ruang kelas yang kecil. Namun karena itu lah kami bisa berdiskusi lebih intim selama sesi perkuliahan berlangsung dan juga bisa mengenal satu sama lain lebih dekat. Lokasi ICISE dikelilingi perbukitan dan persis di halaman belakangnya terdapat pantai yang amat bersih, indah, dan private. Bermain di pantai setiap senja menjadi agenda rutin kami setiap sesi perkuliahan berakhir.

Vietnam School of Astrophysics rutin diadakan dengan tema yang berbeda setiap tahunnya. Pendaftaran dan seleksi dibuka sekitar bulan Juni dan acara diadakan sekitar bulan Juli/Agustus. [sarashanti]