Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Mendengar kata “badai” tentu mampu membuat kita mengernyitkan dahi bukan? Lalu bagaimana jika mendengar kata badai magnetik? Apakah sama berbahayanya seperti badai pada umumnya? Berbicara mengenai badai, dalam pertemuan Pascasarjana Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) dibahas mengenai badai magnetik atau badai Matahari siklus ke-23. Pemateri kali ini adalah Tiara Wulandari, mahasiswa Pascasarjana Astronomi. Pertemuan ini juga dihadiri oleh Dr. rer. nat. Hesti Retno Tri Wulandari, M. Sc. sebagai ketua Program Studi Magister Astronomi ITB.

Gambar 1. Tahun-tahun penyusun siklus matahari ke-23 (Sumber: NASA)

Badai magnetik merupakan badai yang bersumber dari Matahari. Badai ini terjadi dengan  kronologis yang cukup panjang. Ketika Matahari berada di siklus maksimumnya, bintik Matahari atau sunspot berada pada jumlah yang banyak. Bintik Matahari merupakan suatu daerah gelap yang memiliki kekuatan magnetik yang kuat. Kemudian kemungkinan besar akan terjadi flare atau  ledakan Matahari yang di dalamnya terkandung partikel berenergi tinggi. Ketika flare terjadi, kemugkinan pula akan menyebabkan terjadi peristiwa Coronal Mass Ejection (CME) atau Lontaran Massa Korona. CME terjadi ketika Matahari sedang berada pada siklus maksimumnya. Ketika CME berlangsung, lontaran massanya akan dibawa oleh angin Matahari keluar dari Matahari melalui medium antar planet. Partikel berenergi tinggi yang berinteraksi dengan medium antar planet yang terdiri dari awan gas dan debu, disebut dengan Magnetic Cloud (MC) atau Awan Magnetik.

Gambar 2. Contoh Peristiwa Flare di Matahari (Sumber: NASA)

Kembali berbicara mengenai Badai Magnetik, salah satu pemicunya adalah adanya MC yang berinteraksi dengan magnetik Bumi. Namun tidak semua MC merupakan faktor penyebab terjadinya Badai Magentik. Hal ini dikarenakan definisi dari badai magnetik adalah terkait kecepatan dari datangnya MC tersebut. Untuk MC yang datang ke Bumi dengan kecepatan tinggi kemungkinan besar akan menyebabkan terjadinya Badai Magnetik. Sedangkan setiap MC yang datang ke Bumi memiliki kecepatan yang berbeda satu sama lain.  Penyebab terbentuknya MC ada dua, pertama karena adanya peristiwa CME, kedua ketika terjadi lubang korona Matahari besar. Dua hal ini adalah keadaaan yang bertolak-belakang satu sama lain. Seperti pemaparan sebelumnya, CME terjadi ketika Matahari berada di siklus maksimumnya, sedangkan keadaan lubang korona yang besar berada pada saat siklus Matahari minimum. Saat lubang korona memiliki area yang luas, angin Matahari yang dihebuskan pun semakin meningkat. Angin yang membawa partikel berenergi tinggi ini akan berinteraksi dengan medium antar planet yang kemudian akan membentuk MC. Namun kembali pada definisi badai, MC yang dihasilkan dari peristiwa lubang korona yang besar ini menghasilkan kecepatan MC yang berbeda-beda. Sehingga belum dapat dipastikan akan menyebabkan terjadi badai magnetik.

Ketika badai magnetik ini terjadi, ada beberapa dampak negatif yang akan kita dapatkan. Salah satunya terganggunya sistem navigasi kita karena satelit buatan kita terganggu. Hal ini dapat berakibat fatal pada kehidupan kita karena saat ini banyak hal bergantung pada satelit. Terjadinya badai magnetik belum dapat kita prediksi. Lebih dari itu, mulai dan berakhirnya suatu siklus Matahari pun belum dapat kita prediksi dengan baik. Sampai saat ini kita masih belum menemukan perumusan fisika yang dapat mengakomodasi perilaku dari siklus Matahari.

Matahari adalah bintang paling dekat dengan Bumi. Oleh karenanya ia menjadi begitu kompleks untuk dipelajari. Masih banyak hal yang belum kita ketahui dengan baik dari Matahari. Maka dari itu kita perlu melakukan banyak pengamatan dan pengkajian lebih lanjut dari Matahari. Mempelajari Matahari itu menjadi salah prioritas kita di bidang sains karena aktivitasnya dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan di Bumi maupun planet lainnya di Tata Surya.