Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Pernahkah kamu melihat langit malam yang bertaburan bintang? Sepertinya jika kita melihatnya di daerah pedesaan, langit seperti itu masih mungkin untuk kita lihat. Namun jika kita melihatnya di daerah perkotaan, sudah sangat sulit. Mengapa? Hal ini dikarenakan langit di perkotaan sudah terkontaminasi oleh polusi cahaya, sehingga langit malam tidak gelap, melainkan terang. Polusi cahaya ini disebabkan oleh cahaya dari lampu artifisial atau buatan. Di perkotaan, lampu artifisial sudah menjadi kebutuhan kita sehari-hari, dan digunakan hampir 24 jam/hari. Lampu artifisial yang digunakan pada malam hari secara massif akan menyebabkan langit malam terkontaminasi olehnya, sehingga langit malam menjadi terang. Hal ini yang menyebabkan kita tidak bisa melihat langit malam bertaburan bintang di daerah perkotaan.

Berbicara mengenai langit malam, di dalam Pertemuan Pascasarjana Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) terdapat pembahasan mengenai kecelangan langit malam. Pembahasan ini dipaparkan oleh Hendra Agus Prastyo, mahasiswa pascasarjana astronomi angkatan 2017. Hendra mengambil topik, “Dinamika Polusi Cahaya di Sekitar Observatorium Bosscha dan Observatorium Nasional Timau.” Observatorium Bosscha merupakan salah satu observatorium di Indonesia yang masih aktif melakukan penelitian astronomi sejak 1928. Kondisi langit Observatorium Bosscha pada saat itu masih sangat bagus dan cocok untuk melakukan pengamatan berbagai objek astronomi.

Gambar 1. Peserta Pertemuan Pascasarjana Astronomi ITB (Sumber: md)

Gambar 2. Hendra Agus Prastyo (Sumber: md)

Namun, kian tahun daerah tempat Observatorium Bosscha berada, mengalami perkembangan yang sangat pesat, kira-kira pada tahun 1980-an. Sejak itu kondisi langit malam di Observatorium Bosscha menurun. Hal ini berkaitan dengan penggunaan cahaya artifisial luar ruangan yang menyebabkan terjadinya polusi cahaya. Permasalahan polusi cahaya di sekitar Observatorium Bosscha dapat dikatakan sebagai permasalahan spasial. Oleh karena itu untuk mengatasinya dilakukan analisis secara spasial pula, menggunakan data citra satelit malam hari VIIRS-DNB. Sebagai perbandingan, dilakukan pula analisis yang sama di sekitar Observatorium Nasional Timau.

Dalam hal ini daerah yang akan ditinjau adalah polusi cahaya yang berlokasi di sekitar kedua observatorium, tepatnya Observatorium Bosscha (107o 37′ BT; 6o 49′ LS; ketinggian 1.300 m dpal) dan Observatorium Nasional Timau (123o 56,794′ BT; 9o 35,77′ LS; ketinggian 1.281 m dpal). Untuk menganalisis tingkat polusi cahaya, ia diklasifikasikan ke dalam 5 kelas, yaitu kelas 1 (sangat rendah), kelas 2 (rendah), kelas 3 (sedang), kelas 4 (tinggi), dan kelas 5 (sangat tinggi). Proses pengklasifikasiannya dibagi menjadi dua metode, yaitu unsupervised untuk pengamatan di sekitar Observatorium Bosscha, dan supervised untuk di sekitar Observatorium Nasional Timau dengan acuan hasil klasifikasi dari lingkungan Observatorium Bosscha. Salah satu data citra satelit yang diambil, diperlihatkan pada Gambar 3.

Gambar 3. Contoh data citra satelit (Sumber: Hendra)

Gambar 4. Peta polusi cahaya di sekitar Observatorium Bosscha (Sumber: Hendra)

Pada Gambar 4. klasifikasi polusi cahaya diintepretasikan dalam beberapa warna. Untuk warna hijau tua menandakan tingkat polusi cahaya yang sangat rendah. Warna hijau muda untuk tingkat polusi cahaya yang rendah, kuning untuk tingkat sedang, oranye untuk tingkat tinggi, dan merah untuk tingkat sangat tinggi. Titik biru kecil di pusat lingkaran mengindikasikan lokasi Observatorium Bosscha. Terlihat bahwa Observatorium Bosscha dekat sekali dengan daerah berwarna oranye dan merah dari peta polusi cahaya tersebut. Di arah Selatan Observatorium Bosscha adalah Kota Bandung yang merupakan pusat dari aktivitas mulai pagi hari hingga malam hari sehingga penggunaan cahaya artifisial luar ruangan sangat tinggi. Sebagai perbandingan, peta polusi cahaya di sekitar Observatorium Nasional Timau dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Peta polusi cahaya di sekitar Observatorium Nasional Timau (Sumber: Hendra)

Pada Gambar 5 dapat dilihat bahwa sebagian besar daerah di sekitar Observatorium Nasional Timau berwarna hijau tua yang menandakan tingkat polusi cahaya sangat rendah. Untuk itu pemilihan lokasi pembangunan Observatorium Nasional di Timau adalah langkah yang tepat untuk mendukung observasi berbagai objek astronomi. Dengan data polusi cahaya di sekitar Obsevatorium Bosscha dan Observatorium Nasional Timau, kita dapatkan bahwa menjaga alam khususnya langit malam bebas polusi cahaya adalah sesuatu yang harus kita lakukan untuk masa depan observasi astronomi yang terus berjalan. Awalnya kondisi langit malam di sekitar Observatorium Bosscha seperti di sekitar Observatorium Nasional Timau. Namun dikarenakan penggunaan cahaya artifisial luar ruangan yang tidak bijak dari tahun ke tahun menyebabkan terjadinya polusi cahaya. Sehingga mengganggu keberjalanan observasi berbagai objek astronomi. Hal ini dapat kita lakukan mulai dari diri sendiri, seperti menggunakan tudung lampu yang sesuai agar cahaya luar ruangan tidak tersebar ke atas atau ke arah langit.