Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Pengamatan astronomi berbasis teleskop radio kian hari kian berkembang baik dari sisi pengembangan teknologi terkait serta infrastukturnya, yang terus meningkatkan sensitivitasnya. Teleskop radio adalah perangkat saintifik yang melakukan analisis sinyal astronomis pada panjang gelombang radio. Sejak tahun 2008, Observatorium Bosscha telah mengembangkan beberapa jenis teleskop radio yang bekerja pada beberapa rentang frekuensi. Salah satunya adalah Teleskop Radio Hidrogen, berdiameter 6 m, yang digunakan terutama untuk pengamatan spektrum hidrogen netral pada frekuensi 1420,4 MHz. Berbicara mengenai teleskop radio, baru-baru ini telah dilaksanakan konferensi mengenai pengamatan astronomi berbasis teleskop radio, di kota Accra, Ghana. Pertemuan ini berlangsung pada tanggal 21 – 25 Januari 2019. Salah satu yang mengikuti konferensi tersebut, yang mewakili Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus Asia Tenggara, adalah Prof. Dr. Taufiq Hidayat yang merupakan salah satu dosen di Program Studi Astronomi FMIPA-ITB dengan bidang keahlian Planetary Science. Beliau juga banyak meneliti dan ikut andil dalam perkembangan teleskop radio.

Gambar 1. Teleskop Radio 6 meter (HIDROGEN) di Observatorium Bosscha. (Sumber: Obs. Bosscha)

Konferensi terkait teleskop radio di Ghana berfokus pada tema tentang dish conversion, yaitu memanfaatkan antena telekomunikasi satelit untuk dijadikan teleskop radio. Hal ini adalah pertama kalinya terdapat konferensi dish conversion untuk astronomi radio. Pertemuan ini dihadiri oleh 60 orang peserta yang berasal dari berbagai negara. Perwakilan dari Asia berasal dari Indonesia, India, dan Jepang. Perwakilan dari Amerika Latin, terdiri dari Kolombia, Uruguay, Peru, Mexico, dan Ekuador. Dari Eropa mengirimkan perwakilan dari Inggris, Yunani dan Portugal. Selain itu yang paling banyak berasal dari benua Afrika itu sendiri, yaitu Afrika Selatan, Zambia, Mozambik, Tanzania, Kenya, Ghana, Madagaskar, Aljazair, Mesir, dan Nigeria. Para peserta workshop ini umumnya berasal dari kalangan astronom dan engineer dari bidang-bidang yang terkait, seperti electrical dan mechanical engineering.

Konferensi ini diprakarsai oleh United Kingdom (UK), tepatnya merupakan hasil kerja sama antara berbagai universitas di UK yang dimotori oleh University of Leeds, bekerjasama dengan Afrika Selatan. Dalam konferensi ini dibahas mengenai bagaimana mengubah antena telekomunikasi satelit menjadi teleskop radio, yang telah dilakukan sejak tahun 2011 dalam skema proyek Development in Africa with Radio Astronomy (DARA). Tujuan diadakannya pertemuan ini di antaranya untuk membentuk jejaring teleskop radio VLBI (Very Long Baseline Interferometer) dan menyongsong pembangunan Square Kilometre Array (SKA), yaitu proyek pengembangan teleskop radio terbesar di dunia, mulai dekade mendatang. Teleskop radio yang telah bekerja di Afrika akan disertakan dalam African VLBI Network (AVN), termasuk teleskop yang ada di Ghana.

Afrika Selatan, salah satu negara yang memiliki pengalaman panjang dalam astronomi radio, telah terpilih sebagai lokasi main array untuk mid– dan high-frequency SKA (1 – 26 GHz), sedangkan Australia terpilih untuk menjadi host dari low-frequency SKA (kurang dari 500 MHz). Rencananya proyek SKA ini akan membangun ribuan teleskop, yang kelak menjangkau sebagian besar negara-negara di Afrika. Saat ini proyek SKA masih dalam tahap perencanaan dan perancangan. Rencananya pembangunan infrastruktur dan persiapan Sumber Daya Manusia (SDM) akan dilakukan dalam beberapa fase. Hal ini dikarenakan target pembangunan ribuan teleskop radio yang membutuhkan kurun waktu cukup lama, dan belum dapat ditentukan durasinya. Masih banyak aspek yang harus dikaji dan dipersiapkan secara teknis, termasuk kebutuhan dana yang sangat besar. Dana akan dihimpun melalui konsorsium atau penghimpunan dana dari negara anggota yang tergabung dalam proyek ini.

Teleskop-teleskop yang tersebar di seluruh negara akan membentuk array radio sehingga dapat melakukan pengamatan secara serentak. Di masa datang, untuk menghubungkan berbagai teleskop radio tersebut, rencananya akan memanfaatkan infrastruktur kabel fiber optik yang mulai tersedia di seluruh dunia, termasuk antar benua. Hal ini akan membuat pengamatan berjalan mendekati real time.

Namun untuk mencapai tujuan SKA ini, program VLBI merupakan program antara yang sangat perlu dikembangkan. Berbeda dengan SKA, teleskop-teleskop VLBI tidak terhubung secara fisik oleh kabel, melainkan masing-masing teleskop radio beroperasi sendiri, lalu datanya direkam dengan catatan waktu yang sangat presisi. Kemudian data dari berbagai teleskop radio dikorelasikan atau dibuat sama fasenya satu dengan yang lainnya melalui pusat korelator. Oleh karena itu, sistem VLBI ini tidak bersifat real time. Untuk mengorelasikan data dari berbagai teleskop radio, dapat dilakukan pengiriman hasil rekaman melalui internet atau dengan mengrimkan disk data melalui jasa ekspedisi.

Pada konferensi Ghana ini dibahas dan didiskusikan mengenai bagaimana mengubah antena telekomunikasi menjadi teleskop radio. Mekanismenya antena-antena telekomunikasi yang sudah tak terpakai diperbaiki bagian yang rusak atau di-refurbished. Beberapa bagian yang diperbaiki, meliputi komponen mekanis, sistem penggerak antena, gear box, dan controller, termasuk memperbaiki permukaan dan supporting system antenna. Kemudian dipasangkan receiver teleskop radio padanya. Secara rinci, kegiatan yang dilakukan pada konferensi Ghana adalah membahas lesson learned dari Ghana karena sudah berhasil mengubah antena telekomunikasi menjadi teleskop radio yang didukung oleh para engineer dari Afrika Selatan. Selain itu juga dibahas penelitian apa saja yang bisa dilakukan dengan teleskop semacam itu, serta pemaparan dari masing-masing negara terkait perencanaan program radio. Para peserta kemudian juga berkesempatan mengunjungi teleskop radio dengan diameter 32 m di Kuntunse, Ghana. “Kegiatan yang paling menarik di sana adalah saat sesi sharing terkait mengubah antena telekomunikasi menjadi teleskop radio.”, tutur Prof. Taufiq.

Gambar 2. Ghana DISH Conversion Workshop. (Sumber: Prof. Taufiq)

Gambar 3. Prof. Taufiq dan Teleskop Radio 32 meter di Ghana. (Sumber: Prof. Taufiq)

Gambar 4. Teleskop Radio 32 meter di Ghana. (Sumber: Prof. Taufiq)

Berbicara mengenai pembangunan teleskop radio di Indonesia, saat ini ITB sedang melakukan kerja sama dengan Indosat Ooredoo. Program ini sedang dalam tahap pembicaraan dan pembuatan proposal. Rencananya salah satu antena telekomunikasi Indosat Ooredoo yang ada di Stasiun Bumi Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, akan dikonversi menjadi teleskop radio. Pemrakarsa program ini adalah Kelompok Keahlian Astronomi dan Observatorium Bosscha FMIPA – ITB, bekerja sama dengan bidang-bidang terkait, dari STEI dan FITB, serta DSTI – ITB. Hal ini akan melibatkan interaksi multi-dsiplin yang sangat intensif.

Proyek VLBI dan SKA akan menunjang pengamatan astronomi berbasis teleskop radio dengan semakin baik lagi. “Dengan terlibatnya Indonesia di dalam VLBI Network di dunia, diharapkan kerja sama internasional terus meningkat serta membantuk jejaring yang semakin luas.”, tutur Prof. Taufiq. [md]