Jum’at, 24 Januari 2020, Program Studi (Prodi) Astronomi ITB kembali mengadakan kolokium. Kali ini, salah satu asisten akademik Prodi Astronomi ITB, Ni Putu Audita Placida Emas, atau yang biasa disapa Nimas hadir sebagai pembicara untuk berbagi pengalamannya dalam mengikuti International School for Young Astronomers (ISYA) ke-42 yang diselenggarakan di China tahun 2019 silam. Kolokium sendiri berlangsung di ruang seminar gedung CAS lantai 6 ITB dari pukul 13.00 WIB sampai 14.00 WIB.

Nimas mengawali kolokium kali ini dengan memberikan penjelasan sekilas terkait program ISYA. Program tersebut adalah program yang diadakan oleh International Astronomical Union (IAU) secara berkala yang bertujuan untuk memperluas wawasan para astronom muda dari berbagai negara terkait perkembangan astrofisika saat ini, baik dalam ranah teori maupun observasi. Program tersebut berlangsung selama tiga minggu mulai dari 14 Oktober hingga 2 November 2019.

Program ISYA sendiri menawarkan berbagai macam topik. Mulai dari materi antar bintang, tata surya dan eksoplanet, galaksi, kosmologi, bahkan hingga pengembangan karir di bidang penelitian. Peserta juga diharuskan untuk dapat mengadakan penelitian berbasis observasi dan juga melakukan pengolahan data untuk berbagai macam data astronomi, seperti data dari satelit X-Ray, satelit radio, hingga satelit infra merah.

Dan terkhusus materi pengembangan karir di bidang penelitian, Nimas menekankan betapa pentingnya materi tersebut untuk mahasiswa, baik S-1 maupun S-2 yang berminat untuk melanjutkan karir di bidang penelitian. Materi pengembangan karir di bidang penelitian membahas bagaimana jenjang yang harus dilalui oleh mahasiswa agar bisa menjadi peneliti. Mahasiswa harus memulai tahapan awalnya dari under graduate student atau mahasiswa S-1. Setelah berhasil mendapatkan gelar sarjana, tahapan berikutnya yang harus dijalani adalah menjadi graduate student atau mahasiswa S-2, dan setelah kedua tahap tersebut terpenuhi, tahap terakhir yang harus dilalui mahasiswa dalam menempuh pendidikan formalnya adalah Ph.D. atau menjadi mahasiswa S-3.

Namun meskipun semua pendidikan formal sudah dijalani, bukan berarti mahasiswa dapat disebut sebagai peneliti. Setelah menempuh jenjang S-3, mahasiswa harus mendaftar dalam program postdoctoral, yaitu program yang menitikberatkan tiap mahasiswa untuk melakukan riset. Dari program postdoctoral itulah jalan menjadi seorang peneliti dimulai.

(Sumber: az)

(Sumber: fms)

Selain menjelaskan tentang tahapan-tahapan yang harus ditempuh, materi pengembangan karir di bidang penelitian juga memberikan berbagai saran untuk memuluskan jalan mahasiswa. Di antara saran tersebut adalah, mahasiswa harus siap untuk belajar bukan hanya dari dosen pengajar saja, melainkan dari siapapun. Kemampuan untuk belajar dari siapapun tersebut sangat penting untuk dimiliki oleh seorang peneliti.

Selain itu, mahasiswa harus memanfaatkan predikatnya sebagai mahasiswa untuk mulai melakukan risetnya sendiri dengan tujuan untuk dipublikasikan. Predikat mahasiswa tentu memiliki banyak keuntungan untuk memulai riset. Salah satunya adalah izin untuk mengakses observatorium yang jelas lebih mudah daripada mereka yang bukan mahasiswa. Publikasi riset tersebut akan sangat membantu ketika mahasiswa harus mencari sekolah untuk jenjang yang lebih tinggi.

Nimas sendiri dalam wawancara terpisah menyatakan bahwa ia mendapatkan banyak sekali manfaat dari program ISYA ini, seperti informasi dari berbagai pengajar di berbagai universitas tentang pendaftaran program Ph.D. di universitasnya, sampai memperluas networking untuk berbagai hal, seperti kolaborasi penelitian. Padahal tujuan awal Nimas mengikuti program ini tidak muluk-muluk, yaitu demi mendapatkan supervisor sebagai salah satu syarat mendaftarkan diri ke jenjang pendidikan S-3. [az]