Sabtu, 5 September 2020, Observatorium Bosscha kembali mengadakan pengamatan virtual yang telah rutin dilaksanakan selama pandemi Covid 19 saat ini. Pengamatan ini adalah pengamatan virtual kelima dengan tema Jarak dalam Astronomi. Acara berlangsung selama hampir dua jam mulai dari pukul 19.15 hingga 21.15 WIB.

Pada sesi pengamatan kali ini, hadir Anton Timur Jaelani, staf Kelompok Keahlian (KK) Astronomi ITB yang mengggeluti bidang galaksi dan kosmologi, sebagai pembicara. Anton ditemani oleh Denny Mandey, astronom Observatorium Bosscha yang bertindak sebagai operator teleskop menggantikan Muhammad Yusuf yang selama empat pertemuan sebelumnya telah menemani pemirsa mengamati berbagai objek langit. Teleskop yang digunakan pada sesi ini pun berbeda. Jika di empat pengamatan sebelumnya peserta telah berkenalan dengan Bosscha Robotic Telescope (BRT), maka kali ini Denny hadir dengan disenjatai teleskop STEVia yang sering digunakan untuk pengamatan gugus bintang terbuka, bintang variabel, serta okultasi bintang.

Pada sesi awal, Anton banyak menjelaskan tentang cara pandang manusia terhadap benda langit. Mulanya, orang mengira bahwa benda langit terlihat terang karena jaraknya dekat. Jika benda langit tersebut berada di jarak yang jauh, tentu akan terlihat semakin redup. Lantas ada pula pemikiran bahwa benda-benda yang ada di langit tidak bergerak. Padahal semua benda yang ada di langit bergerak. Akan tetapi karena jaraknya sangat jauh, pergerakan tersebut tidak bisa kita lihat dalam waktu singkat. Contohnya saja rasi bintang Ursa Mayor, yang bentuknya akan berubah setelah beberapa ribu tahun kemudian.

Selain itu, ada pula konsep terkenal lainnya di zaman dahulu, yakni konsep geosentris, dimana Bumi adalah pusat dari Tata Surya. Konsep tersebut awalnya terlihat masuk akal, akan tetapi ketika diilustrasikan, akan muncul kerumitan-kerumitan yang tidak mudah dijelaskan. Dengan mengganti pusat Tata Surya ke Matahari, kerumitan yang muncul ternyata jauh lebih mudah dijelaskan dan lebih sesuai dengan hasil pengamatan, sehingga konsep Matahari sebagai pusat tata surya kemudian terus dipakai sampai sekarang.

Kemudian Anton memperkenalkan salah satu metode pengukuran jarak objek langit, yaitu paralaks. Konsep tersebut secara sederhana dapat dijelaskan dengan menatap satu objek dengan menutup salah satu mata secara bergantian, maka objek akan terlihat bergerak. Hal tersebut terjadi karena perbedaan sudut pandang. Dengan konsep serupa, astronom dapat memperkirakan jarak Bumi ke Matahari, yang akhirnya dikenal sebagai satu satuan astronomi dan menjadi standar pengukuran benda langit lainnya.

Akan tetapi, metode paralaks hanya efektif digunakan untuk objek yang dekat. Semakin jauh objek dari bumi, maka sudut yang dibentuk akan semakin kecil sehingga akurasi pengukuran yang didapatkan akan semakin rendah. Untuk benda-benda yang lebih jauh lagi, maka dibutuhkan metode lain yang lebih akurat. Salah satu metode yang dikenalkan adalah lilin penentu jarak (standard candle) dan penggaris standar (standard ruler).

Prinsip kerja lilin penentu jarak adalah dengan mengamati beberapa objek yang memiliki kecerlangan intrinsik yang sama. Apabila ternyata salah satu objek terlihat lebih redup, dapat disimpulkan bahwa objek tersebut jaraknya lebih jauh. Objek yang sering digunakan sebagai lilin penentu jarak adalah bintang variabel Chepeid atau supernova tipe Ia. Sedangkan prinsip penggaris standar adalah dengan mengamati beberapa objek yang memiliki panjang bentangan yang sama, sehingga ketika salah satu objek nampak memiliki bentangan yang kecil, dapat disimpulkan objek tersebut jaraknya lebih jauh.

Sementara di sesi pengamatan, Denny mengajak pemirsa mengamati berbagai objek langit, mulai dari objek dekat seperti planet Saturnus hingga objek yang jauh seperti gugus bola. Sayangnya Bulan belum terbit pada saat itu, sehingga tidak dapat teramati.

Di akhir pengamatan, Denny menyampaikan pesan yang patut menjadi renungan bersama, “Setelah mendengarkan pemaparan tentang jarak yang ada di alam semesta, mestinya kita sadar bahwa kita cukup terisolasi di alam semesta ini. Apabila Bumi kita bermasalah, maka akan sulit untuk kita mengungsi darinya. Oleh karena itu, mari kita jaga bersama Bumi kita.” [Achmad Zulfikar]