Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Keilmuan Astronomi membahas banyak topik, salah satunya gravitational lensing. Topik ini merupakan topik yang digeluti oleh pembicara pada kolokium yang sebelumnya dilaksanakan di Program Studi (Prodi) Astronomi ITB, Dr. Anton Timur Jaelani. Beliau merupakan mahasiswa program sarjana Astronomi ITB angkatan 2008, magister Astronomi angkatan 2012, dan doktor Tohoku University, Jepang angkatan 2014. Saat ini beliau tengah menjalani studi postdoctoral di Kindai University, Jepang dan menjadi pemimpin dalam proyek terkait risetnya, yaitu gravitational lensing.

Topik risetnya termasuk ke dalam sub-kelompok keahlian Galaksi dan Kosmologi dalam keilmuan Astronomi. Awalnya beliau tertarik dengan topik Fisika Matahari, namun saat tengah tingkat akhir studi sarjana, dosen yang memiliki keahlian di bidang Fisika Matahari sudah membimbing banyak mahasiswa. Sehingga beliau memutuskan untuk mengambil topik yang ia minati selain Fisika Matahari, yaitu Kosmologi. Konsep lensing dapat diibaratkan layaknya teleskop, membantu kita melihat benda-benda langit menjadi lebih mudah. Gravitational lensing yang tejadi di antara benda-benda langit yang dapat menghasilkan efek pelensaan gravitasi yang cukup kuat untuk menciptakan banyak gambar atauh bahkan cincin Einstein, disebut strong lensing atau strong gravitational lensing. Strong lensing dapat diterapkan pada skala kecil maupun besar, seperti pada planet, galaksi, grup, dan cluster. Konsep strong lensing memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya, data cukup melimpah untuk diolah. Namun kekurangannya, sulit untuk di follow up, dalam artian setiap teleskop yang mengamatinya memiliki spesifikasi yang berbeda, maka sampel pendeteksian lensing pun berbeda-beda sehingga menjadikannya sulit untuk dikonfirmasi dengan pengamatan lain. Selain itu, jika objek tidak terlalu eksotis akan sulit mendapatkan waktu pengamatan yang baik. Kuncinya, ketika sudah ada aspek spektroskopi pada pengamatan tersebut, tidak perlu dilakukan follow up.

Dalam riset disertasinya, beliau mencoba mengidentifikasi apa saja yang ada di antara dua buah grup dalam sebuah cluster. Beliau melakukan pengamatan dan analisis pada disertasinya tersebut. Beliau melakukan pengamatan menggunakan teleskop Subaru dan Gemini di Hawaii, serta teleskop luar angkasa Hubble. Selain itu, beliau menggunakan bantuan pemprogaman dalam pengolahan datanya, yaitu Convolutional Neural Network (CNN). Cara kerjanya dengan melakukan filtering matrix. Untuk setiap pengamatan dengan objek yang berbeda, diperlukan pembuatan model lensing dengan pemprograman tersebut. Model ini dapat digunakan pada pengamatan lainnya dengan objek yang sama sebagai penentu apakah data yang diperoleh merupakan lensing atau bukan. Untuk masa yang akan datang, diharapkan kemampuan komputer dalam membantu mengolah data akan semakin canggih, misalnya komputer dapat dengan otomatis membuat model lensing ketika data diberikan, tanpa harus dikerjakan oleh manusia.

Pada Rabu, 29 Mei 2019, beliau memberikan pemaparan kembali terkait gravitational lensing. Khususnya terkait pengamatan dengan teleskop Subaru, masa depan pada machine learning yang digunakan, serta tantangan sains di masa depan. Pertemuan ini ditujukan kepada para saintis di Observatorium Bosscha. Beliau juga menuturkan, “Saat ini Sumber Daya Manusia (SDM) yang meneliti topik gravitational lensing masih minim, sehingga jika setelah pemaparan materi gravitational lensing ada yang tertarik untuk ikut meneliti, ini merupakan kesempatan yang baik.” Saat ini keilmuan Astronomi sudah semakin maju salah satunya dengan bantuan teknologi yang semakin canggih dan berbagai metode pengolahan data yang semakin efektif. Dengan tantangan sains yang semakin tinggi di masa depan, diharapkan SDM sudah siap dan memiliki kemampuan yang mumpuni untuk menghadapi tantangan tersebut. [md]