Sorry, this entry is only available in Indonesian. For the sake of viewer convenience, the content is shown below in the alternative language. You may click the link to switch the active language.

Setiap hari kita menggunakan kalender atau sistem waktu. Saat ini telah berkembang berbagai jenis kalender, contohnya Kalender Jawa, Cina, dan Maya. Namun kalender yang sering kita gunakan sehari-hari adalah Kalender Masehi dan Hijriyah. Umumnya setiap kalender menggunakan suatu acuan perhitungan di dalam sistem kalendernya. Saat ini acuan tersebut terbagi menjadi tiga jenis, yaitu Matahari (Solar), Bulan (Lunar), dan Lunisolar (kombinasi Bulan dan Matahari). Kalender Masehi adalah kalender Matahari yang digunakan untuk berbagai kepentingan, seperti melakukan transaksi dan perjanjian, membuat surat, dan keterangan expired date suatu produk. Sedangkan Kalender Hijriyah adalah kalender Bulan yang masyarakat muslim pada umumnya menggunakan kalender ini untuk kepentingan peribadatan, seperti menentukan waktu shaum (puasa). Di Indonesia yang penduduknya mayoritas beragama islam, menggunakan kedua kalender ini secara beriringan di dalam kesehariannya.

Dengan berbagai jenis kalender yang ada, tentu pembahasannya cukup luas dan menarik. Salah satunya kolokium yang dilangsungkan oleh Program Studi Astronomi ITB pada Jum’at (15/02/19) beberapa waktu lalu. Kolokium ini bertemakan kalender dalam perspektif Al-Qur’an dan sains yang dipaparkan oleh H. Mohammad Sobaruddin, S.H., yang merupakan seorang pengamat tatanan waktu dan kalender Islam. Pertemuan diselenggarakan mulai pukul 13.00 – 15.00 WIB dan bertempat di Ruang Seminar, Gedung Center for Advanced Sciences (CAS), lantai 6 Program Studi Astronomi ITB.  Peserta yang hadir merupakan dosen dan mahasiswa astronomi ITB.

Gambar 1. Pemaparan yang disampaikan oleh H. Mohammad Sobaruddin, S.H. (Sumber: md)

Dalam pemaparannya, Pak Sobaruddin menunjukkan korelasi antara ayat qur’aniyah (ayat Al-Qur’an) dan kauniyah (alam semesta dan fenomenanya) dari beberapa topik keastronomian terkait tatanan waktu. Pertama, terkait teori Bumi bulat. Menurut Pak Sobaruddin, bentuk Bumi yang bulat sudah dituliskan dalam Al-Qur’an dalam surat Az-Zumar: 5, yaitu “Dia menciptakan langit dan Bumi dengan (tujuan) yang benar, Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukkan Matahari dan Bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Mahamulia, Maha Pengampun.

Di dalam ayat ke-5 surat Az-Zumar tersebut terdapat kalimat yukawwiru yang berasal dari kata qurro à qurrotal qodam artinya bola kaki (bola sepak). Menurutnya, hal ini mengindikasikan bahwa Bumi berbentuk seperti bola. Dari terjemahan ayat tersebut pula, Pak Sobaruddin memaparkan bahwa waktu dimulainya hari bukan dari siang ke malam, melainkan dari malam ke siang. Dalam kata lain, hari dimulai ketika maghrib dan berakhir di maghrib berikutnya. Kedua, terkait musim dua atau zona khatulistiwa. Pak Sobaruddin menyatakan bahwa penjelasan terkait musim dua tercatat dalam Qur’an Surat Quraisy: 1-3, yaitu “Karena kebiasaan orang-orang Quraisy. (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah).

Ketiga, pembahasan terkait bujur 0° yang menurut Pak Sobaruddin merujuk pada Qur’an Surat Asy-Syu’araa : 28, yaitu “Musa berkata, “Allah-lah Tuhan yang menguasai Timur dan Barat, serta apa yang ada di antara keduanya jika kamu mengerti.”” Beliau memaparkan bahwa di antara bujur Barat dan Timur adalah bujur 0°. Namun berbeda dengan bujur 0° yang kita ketahui sekarang, yaitu kota Greenwich, menurut Pak Sobaruddin seharusnya adalah kota Mekkah. Pembahasan keempat yang berkaitan dengan bujur 0° ini adalah mengenai home base atau basis acuan dari segala perhitungan dalam sistem waktu, yaitu Ka’bah. Pak Sobaruddin merujuk pada Qur’an Surat Ali-‘Imran: 96, yaitu “Sesungguhnya, rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia adalah Baitullah yang ada di Mekkah, yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.” Menurut Pak Sobaruddin, Ka’bah memiliki kaitan dengan arah rotasi Bumi. Bumi berotasi secara counter clockwise atau berlawanan arah jarum jam (jika dilihat dari kutub utara). “Arah rotasi Bumi itu sama seperti arah putaran orang yang bertawwaf.”, tutur Pak Shobaruddin. Jika kita ketahui acuan waktu di dunia ini adalah Greenwich Mean Time (GMT), sekarang sudah dan sedang dikembangkan konsep Makkah Mean Time (MMT).

 

Gambar 2. Jam dinding dengan dua tatanan waktu. (Sumber: md)

Berdasarkan parameter-parameter di atas, hal ini merujuk pada sistem waktu yang telah digunakan oleh masyarakat muslim dan ditetapkan pada sekitar abad ke-16, yaitu Kalender Hijriyah yang berbasiskan Bulan dan Matahari (lunisolar). Penentuan bulan dalam sistem kalendernya didasarkan dari fenomena fase Bulan yang terlihat dari Bumi. Namun dalam menentukan waktu sholat, kalender ini menggunakan pergerakan semu Matahari. Pak Sobaruddin sangat menyayangkan mengapa masyarakat muslim jarang menggunakan Kalender Hijriyah dalam kesehariannya. Beliau juga menyayangkan fakta bahwa ketika masyarakat muslim bertanya terkait waktu ibadah tertentu, alih-alih menanyakan dalam kalender Hijriyah malah justeru menanyakannya dalam Kalender Masehi, misalnya tanggal jatuhnya shaum Ramadhan. Saat kolokium beliau sempat memperlihatkan jam dinding yang terdiri dari dua sistem tatanan waktu, yaitu Hijriyah (di lingkaran luar) dan Masehi (di lingkaran dalam) seperti pada Gambar 2.

 

Gambar 3. Foto bersama setelah Kolokium. (Sumber: fms)

Diskusi yang hidup dalam kolokium ini memberikan kita sudut pandang yang luas dalam melihat persoalan dan problematika yang dihadapi saat ini terkait fungsi kalender Hijriyah. Pemaparan terkait tatanan waktu dalam perspektif Al-Qur’an dan sains ini sebenarnya masih sangat luas. Namun dengan durasi pertemuan yang hanya dua jam, mengaharuskan Pak Sobaruddin untuk mengakhiri pemaparannya. Meskipun begitu peserta sangat antusias bertanya terkait materi yang dipaparkan oleh Pak Sobaruddin. Untuk masa yang akan yang datang, Pak Sobaruddin berharap agar masyarakat muslim bersama-sama dapat menggunakan kembali tatanan waktu Islam dalam kesehariannya. [md]