Berbicara mengenai Hilal, mayoritas dari kita sudah sangat familiar dengannya. Secara definisi, Hilal adalah Bulan sabit tipis yang muncul setelah Matahari terbenam. Hilal menandakan berakhirnya suatu bulan dan dimulainya suatu bulan yang baru. Bagi masyarakat muslim, Hilal yang paling familiar adalah Hilal Ramadhan dan Syawal. Untuk tahu 2019 Masehi ini atau 1440 Hijriyah, telah dilaksanakan pengamatan Hilal oleh berbagai pihak di berbagai tempat pula, misalnya Observatorium Bosscha, Kementrian Agama Republik Indonesia, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), dan lain-lain. Kemunculan Hilal Ramadhan menunjukkan waktu dimulainya ibadah shaum atau berpuasa bagi umat Muslim, sedangkan Hilal Syawal menandakan waktu berakhirnya shaum.

Pada tanggal 5 Mei 2019 lalu dilakukan pengamatan Hilal Ramadhan, salah satunya yang dilakukan oleh tim Observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat dan Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pengamatan Hilal dilakukan sejak pagi hari hingga Bulan terbenam. Tujuannya, untuk melihat kenampakkan Bulan dari elongasi, usia, dan ketinggiannya. Untuk pengamatan Hilal Ramadhan di Kupang, tim Observatorium Bosscha juga bekerja sama dengan Kementrian Agama Republik Indonesia Subdit Hisab Rukyat dan Syariah Direktorat Urusan Agama Islam dan Pembinaan Bima Ditjen Islam. Pengamatan ini juga didukung oleh beberapa pihak, salah satunya tim dari Universitas Nusa Cendana (UNDANA). Dari pengamatan di Observatorium Bosscha, didapat elongasi Bulan 06°29’19,4”, tinggi Bulan 05°28’23,6”, dan usia Bulan saat Matahari terbenam adalah 11 jam 56 menit 16 detik, seperti yang dilansir oleh www.bosscha.itb.ac.id. Maka dari sidang itsbat ditetapkan bahwa bulan Ramadhan 1440 H dimulai pada tanggal 05 Mei 2019.

Untuk pengamatan Hilal Syawal 1440 H, Observatorium Bosscha tidak melakukan pengamatan. Hal ini dikarenakan pada tanggal 03 Juni 2019 M atau 29 Ramadhan 1440 H, perbedaan ketinggian anatara Hilal dan Matahari adalah 0°6’13,9”, elongasi Bulan 2°48’24,7”, dan usia Bulan 38 menit 4 detik. Hal ini mengakibatkan Bulan dan Matahari dalam waktu yang hampir bersamaan, sehingga Observatorium Bosscha memutuskan untuk tidak melakukan pengamatan, seperti yang dilansir oleh www.bosscha.itb.ac.id. Berbeda dengan Kementrian Agama Kabupaten Tasikmalaya yang melakukan pengamatan Hilal Syawal di Pantai Cipatujah, Tasikmalaya. Hasil pemantauanya akan dilaporkan sebagai salah satu bahan pertimbangan penentuan 1 Syawal 1440 H di sidang itsbat. Selain itu BMKG juga melakukan pengamatan Hilal Syawal pada tanggal 03 Juni 2019. Informasi yang didapat meliputi waktu konjungsi (Ijtima’) dan waktu terbenam Matahari, peta ketinggian Hilal, peta elongasi, peta umur Bulan, peta Lag, eta fraksi illuminasi Bulan, objek astronomis lainnya yang berpotensi mengacaukan rukyat Hilal, dan data Hilal saat Matahari terbenam untuk kota-kota di Indonesia, seperti yang dilansir oleh www.bmkg.go.id. Dari berbagai bahan pertimbangan dari pengamatan, ditetapkan dalam sidang itsbat bahwa tanggal 1 Syawal 1440 H jatuh pada tanggal 5 Juni 2019 M.

Gambar 1. Hilal Syawal 1440 H (Sumber: www.bmkg.go.id)

Dari berbagai pengamatan yang dilakukan telah ditentukan dalam sidang itsbat bahwa Hilal Ramadhan jatuh pada tanggal 05 Mei 2019 dan Hilal Syawal jatuh pada tanggal 05 Juni 2019. Bagi institusi seperti Observatorium Bosscha, pengamatan Hilal rutin dilakukan setiap bulannya. Namun untuk Hilal Ramadhan dan Syawal tentu menjadi suatu perhatian yang lebih karena hasilnya akan ikut dipertimbangkan dalam sidang itsbat.[md]