Pada Jumat, 8 April 2022, Kelompok Keahlian Astronomi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung mengadakan kolokium berjudul “Optically Dull Active Galactic Nuclei in COSMOS field” secara daring melalui platform Zoom Meeting yang juga ditayangkan secara langsung melalui kanal YouTube. Kolokium tidak hanya diikuti oleh civitas akademik saja, tetapi bisa diikuti oleh masyarakat umum yang berminat. Kolokium ini disampaikan oleh Itsna Khoirul Fitriana, Ph. D, alumni Program Studi S1 Astronomi ITB yang melanjutkan studi S2 dan S3 di Tohoku University.  Saat ini, Itsna tengah menjadi post-doctoral researcher pada Tohoku University dengan studinya mengenai Active Galactic Nuclei (AGN). Kolokium dibuka dan dipimpin oleh Dr. rer. nat. M. Ikbal Arifyanto, Dosen Prodi Astronomi Institut Teknologi Bandung.

Active Galactic Nuclei (AGN) adalah inti terang galaksi akibat pertumbuhan Supermassive Black Hole yang sedang berlangsung dari akresi materi di sekitarnya. Pada literatur, AGN dapat ditemukan dengan nama yang berbeda-beda, tergantung pada ciri-ciri pengamatannya. Astronom mencoba untuk membuat unification model untuk menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut, salah satunya Antonuicci (1993) yang membuat klasifikasi berdasarkan sudut pandang (sudut inklinasi objek) pengamatan karena setiap daerah yang diamati akan memberikan struktur yang berbeda-beda tergantung dari arah pengamatannya. 

Model tersebut mengklasifikasikan AGN menjadi dua tipe, yaitu tipe 1 (Broad Line (BL) AGN/unobscured AGN), yaitu AGN yang tidak terhalang oleh bagian torus yang terdiri atas dusty absorber dan tipe 2 (Narrow Line (NL) AGN/obscured AGN), yaitu AGN yang terhalang oleh dusty absorber. BL region menghasilkan garis emisi yang lebar karena semua struktur dapat teramati tanpa terhalang bagian torus, sebaliknya NL region menghasilkan garis emisi yang sempit. Emisi BL hanya ditemukan pada AGN, sedangkan NL bisa ditemukan pada objek lain seperti pada galaksi yang sedang aktif membentuk bintang-bintang (star forming galaxies), sehingga diperlukan cara untuk membedakan AGN dengan star forming galaxies, salah satunya dengan membandingkan rasio garis emisi baik melalui pengamatan optik maupun pengamatan X Ray. AGN lebih kaya dengan garis ionisasi tinggi dan memiliki X Ray yang lebih terang. Namun, studi pada beberapa tahun terakhir menemukan adanya objek yang memiliki emisi X Ray mirip AGN tetapi kekurangan garis emisi AGN jika diamati pada spektrum optik. Inilah yang disebut dengan Optically Dull (OD) AGN.

Terdapat tiga hipotesis yang menjadi kemungkinan adanya optical dullness pada OD AGN, yaitu obscuration (terdapat materi penghalang lain selain torus pada AGN), dilution (AGN kalah terang dengan host galaxy), dan low accretion (AGN memiliki struktur inti berbeda yang menyebabkan perbedaan radiasi). Studi mengenai OD AGN ini diharapkan dapat memberikan gambaran terkait evolusi akresi piringan dari standard thin disk ke Radiatively Inefficient Accretion Flow (RIAF) thick disk.

Studi ini menggunakan induk data dari Cosmic Evolution Survey (COSMOS Project), project yang menggunakan data pengamatan multiwavelength. Survei tersebut cocok ditujukan untuk mengamati evolusi galaksi karena bisa mengamati redshift yang jauh hingga dekat. Adapun tujuan dari studi ini adalah untuk menemukan optical signature dari AGN pada COSMOS field, mempelajari perbedaan dari OD AGN dengan NL AGN, serta mempelajari alasan dari adanya OD AGN. Pada studi ini, diseleksi sampel dari katalog C-COSMOS hingga pada akhirnya hanya diperoleh sampel NL AGN dan OD AGN dengan melakukan seleksi X Ray. Dengan membandingkan NL AGN dan OD AGN, diketahui jika NL AGN memiliki hubungan yang lebih baik antara X Ray dan emisi OII. Sedangkan pada OD AGN hubungannya terlihat lebih menyebar yang menyatakan jika dimungkinkan terjadinya kontaminasi AGN, artinya bagian AGN dapat diabaikan karena data lebih banyak dari host galaxy.

Dalam mempelajari keberadaan OD AGN, terkait dilution, studi ini menunjukkan jika 76% dari sampel terdilusi oleh host galaxy. Untuk accretion rate, dihitung dari Eddington rate dan dengan membandingkan dengan studi sebelumnya, ditemukan jika 95 dari 180 OD AGN menunjukkan laju akresi yang lebih rendah dari AGN yang mengindikasikan adanya weak nuclei. Sedangkan dari obscuration, sampel pada riset ini tidak menunjukkan kecenderungan tertentu, semua sampel OD AGN berada di bawah Compton Thick yang mengindikasikan tidak ditemukannya high obscuration pada sampel. Oleh karena itu, dari studi ini dapat disimpulkan jika kemungkinan utama keberadaan OD AGN hanya datang dari dilution dan low accretion, bukan oleh obscuration. [Beta Miftahul Falah, M. Hasan Faadillah]