Rabu tanggal 9 Mei 2018 lalu, dua perwakilan mahasiswa astronomi ITB memberikan kolokium tentang kegiatan lokakarya dari National Astronomical Research Institute of Thailand (NARIT) yang mereka ikuti pada tanggal 24 hingga 30 April 2018 di Chiang Mai, Thailand. Lokakarya bertajuk NARIT International Astronomical Training Workshop (NIATW) sendiri merupakan agenda rutin yang dilakukan oleh NARIT setiap tahunnya. Adapun tiga mahasiswa astronomi ITB yang berkesempatan mengikuti lokakarya ini antara lain dua mahasiswi program sarjana, Ade Nur Istiqomah dan Shinta Nur Amalina, beserta satu mahasiswa program pascasarsajana, Singgih Prana Putra.

Sebelum lokakarya dimulai, pada hari pertama peserta terlebih dahulu melakukan ekskursi ke observatorium yang berada di wilayah pegunungan Doi Inthanon. Di sini para peserta dijelaskan tentang bagaimana proses pengambilan data dalam pengamatan yang dilakukan di Thai National Observatory (TNO). 

Baru di hari-hari berikutnya peserta menjalani sesi perkuliahan beserta pengamatan. Dikarenakan adanya agenda pengamatan, seluruh aktivitas dimulai dari pukul lima petang hingga pukul lima pagi keesokan harinya. Sebelum pengamatan dimulai setiap harinya para peserta terlebih dahulu diberikan pembekalan materi. Termasuk tentang perangkat lunak yang harus diinstalasi yaitu IRAF. Instalasi perangkat lunak ini cukup rumit sehingga dibutuhkan satu hari tersendiri untuk melakukannya.

Pada hari-hari berikutnya para peserta mendapatkan sesi kuliah terlebih dahulu selum memulai pengamatan di malam hari. Sesi kuliah diberikan oleh tiga peneliti National Astronomical Observatories of China (NAOC) dan satu peneliti dari NARIT. Sesi kuliah di hari pertama diisi oleh Dr. Wang Huijuan dari NAOC. Objek penelitian Dr. Wang sendiri fokus kepada bintang muda tipe Matahari yang berada dalam fase Zero Age Main Sequence (ZAMS) dan Pre Main Sequence (PMS). Dalam sesi kuliahnya, Dr. Huijuan membahas tentang bagaimana evolusi awal para bintang muda tersebut dengan mengambil contoh dari studi kasus HD 146875.

Sesi kuliah di hari berikutnya masih diisi oleh Dr. Junjuan Ren yang juga mewakili NAOC dengan topik bintang ganda katai putih. Katai putih merupakan sisa bintang (stellar remnants) yang paling umum. Namun sesi kuliah yang disampaikan Dr. Ren fokus kepada pembahasan sistem bintang ganda Katai Putih Deret Utama (White Dwarf Main Sequence– WDMS). Studi terhadap WDMS ini penting karena berkaitan dengan batasan teori tentang gas yang menyelubungi sistem bintang ganda, yaitu common envelope (CE).

Masih bersama peneliti dari NAOC, pada hari berikutnya peserta mendapatkan materi tentang analisis kelimpahan unsur berdasarkan spektrum resolusi tinggi dari Dr. Junbo Zhang. Dalam melakukan analsis kelimpahan kita harus tahu terlebih dahulu mengenai temperatur efektif, gravitasi permukaan bintang, dan juga metalisitas dari data yang didapat. Ada pun data yang dibutuhkan antara lain model atmosfer, basis data garis elemen, dan spektrum pengamatan. Untuk mengekstrak informasi dari data-data tersebut dibutuhkan perangkat lunak pereduksi data dan kode spektrum sintetik.

Dr. Puji Irawati bersama peserta di dalam ruang kontrol

Sesi kuliah selanjutnya diisi oleh peneliti dari NARIT yang juga alumni dari program studi astronomi ITB, yaitu Dr. Puji Irawati. Dalam kuliahnya beliau membahas dua topik yaitu okultasi dengan objek Bulan dan objek trans Neptunus (Trans Neptunian Object) dan juga sistem ganda dengan objek kompak (Compact Evolved Binaries – CEB). CEB ini melibatkan sistem katai putih yang dilewati oleh bintang muda kelas F, G, K, M dan juga eksoplanet.

Sejak awal kegiatan para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok untuk melakukan pengamatan dan pengolahan data bersama-sama. Namun cukup disayangkan karena hampir sepanjang lokakarya berlangsung kondisi langit tidak cerah sehingga tidak mungkin pengamatan dilakukan.  Sebagai penggantinya para peserta melakukan pengolahan data yang dipandu oleh Dr. Puji Irawati. Langit baru kembali cerah pada hari terakhir lokakarya dan hanya satu kelompok saja yang sempat melakukan pengamatan.

Baik NARIT Headquarter di Chiang Mai ataupun TNO di Doi Inthanon sama-sama memiliki ruang kontrol yang terhubung langsung dengan teleskop utama di Doi Ithanon. Di sana astronom cukup bekerja di dalam ruang kontrol dan memberikan perintah kepada operator untuk mengarahkan teleskop ke objek yang diinginkan.

Dua perwakilan mahasiswa program sarjana astronomi ITB

Dengan sistem observatorium seperti ini kerja astronom menjadi lebih efisien karena bisa fokus kepada permasalahan fisis ketimbang hal-hal teknis. Di samping itu proporsi kerja juga menjadi lebih pas sehingga baik astronom atau pun operator yang berurusan langsung dengan instrumen pengamatan bisa mengembangkan bidangnya masing-masing secara maksimal. Para perwakilan mahasiswa astronomi ITB yang mengikuti lokakarya ini berharap suatu saat sistem kerja observatorium sebagaimana halnya yang dilakukan oleh NARIT bisa diterapkan juga di Indonesia.

[sarashanti]