Astronom sering sekali terbentur berbagai masalah dalam melakukan pengamatan, entah itu masalah teknis ataupun lingkungan. Salah satu permasalahan pokok yang kerap ditemui para astronom adalah banyaknya polusi cahaya yang ada di sekitar lingkungan observatorium sehingga menyebabkan langit malam yang harusnya gelap menjadi jauh lebih terang. Hal itulah yang sebisa mungkin dihindari oleh para astronom.

Banyak cara yang ditawarkan dalam mengatasi polusi cahaya tersebut. Dan cara yang digunakan untuk berbagai daerah jelas berbeda. Tidak mungkin menyamakan cara mengatasi polusi cahaya di daerah perkotaan dengan daerah pedesaan. Oleh karena itu diperlukan adanya pemetaan polusi cahaya di daerah sekitar observatorium. Hal itulah yang dibawakan oleh Hendra Agus Prastyo dalam kolokium Astronomi pada hari Jum’at, 31 Januari 2020 pukul 13.00 sampai 14.00 WIB di Ruang Seminar Astronomi, Gedung CAS Lantai 6 ITB.

Penelitian Hendra sendiri berfokus pada pemetaan serta pengklasifikasian polusi cahaya yang ada di daerah sekitar observatorium di Indonesia. Daerah yang ditinjau adalah Lembang, Jawa Barat untuk Observatorium Bosscha, Timau, Nusa Tenggara Timur untuk calon Observatorium Nasional, serta di daerah Lampung untuk Observatorium Astronomi ITERA Lampung.

Penelitian tersebut dilakukan dengan memanfaatkan software Geographic Information System (GIS) serta data dari citra satelit VIIRS-DNB untuk rentang waktu 2013-2018. Data yang diambil adalah data dengan radius 20 km dari observatorium. Untuk pengklasifikasian polusi cahaya sendiri, data polusi cahaya di Observatorium Bosscha digunakan sebagai dasar untuk menentukan rentang kelas polusi cahayanya, mulai dari sangat rendah sampai ke sangat tinggi.

Hasil dari data untuk observatorium Bosscha sendiri untuk polusi cahaya dengan kelas sangat tinggi cenderung mengalami kenaikan signifikan dalam lima tahun terakhir. Hal tersebut dikarenakan pembangunan berbagai macam pariwisata yang cukup masif sehingga polusi cahaya di sekitarnya jelas mengalami peningkatan. Hasil dari data yang ada di Lampung juga tak jauh berbeda dari data di Lembang. Kecenderungan daerah dengan polusi cahaya sangat tinggi terus meningkat dalam waktu lima tahun.

(Sumber: az)

Yang menarik adalah data dari Timau. Masih banyak sekali daerah yang menunjukkan data polusi cahaya dengan kelas sangat rendah di sekitarnya. Dalam lima tahun terakhir, hampir tidak ada kenaikan di daerah polusi cahaya yang sangat tinggi. Sebaliknya untuk daerah dengan polusi cahaya rendah menunjukkan kecenderungan berkurang, diikuti kenaikan pada data daerah dengan polusi cahaya yang normal.

Salah satu penyebab meningkatnya daerah dengan tingkat polusi cahaya normal di sekitar daerah Timau tentu dapat ditebak. Pembangunan jalan nasional oleh pemerintah jelas akan meningkatkan perekonomian masyarakat setempat, yang kenaikannya juga sebanding dengan data kenaikan tingkat polusi cahaya di daerah tersebut. Selain itu, kita juga tidak mengetahui seberapa besar pengaruh polusi cahaya dari Timor Leste untuk Timau, mengingat jarak kedua daerah tersebut sangat dekat. Dua hal tersebut tentu patut diwaspadai oleh para astronom apabila ingin terus meminimalkan polusi cahaya di daerah tersebut.

Penelitian Hendra ini membentuk kesimpulan baru.Distribusi polusi cahaya sangat bergantung terhadap kondisi geografi di sekitarnya. Untuk daerah dataran tinggi dan perbukitan seperti di Lembang tentu kita berharap polusi cahaya dapat ditekan sekecil mungkin. Namun untuk daerah urban, dengan masifnya perkembangan ekonomi yang ada, tentu kenaikan polusi cahaya yang masif juga tak dapat dicegah. [az]