Mengisi waktu Ramadhan dengan mengikuti suatu kajian Astronomi tentu merupakan salah satu alternatif yang menarik. Seperti halnya kolokium yang diadakan oleh Program Studi (Prodi) Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 27 Mei 2019 lalu. Kolokium ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Dr. Anton Timur Jaelani, dan Ridlo W. Wibowo, M.Si. yang masing-masing merupakan alumni Prodi Astronomi ITB angkatan 2008. Kolokium yang disampaikan oleh Dr. Anton Timur Jaelani bertema, “Gravitational Lensing with Hyper Suprime-Cam SSP.” Sedangkan kolokium yang disampaikan oleh Ridlo W. Wibowo, M.Si. berjudul, “Machine Learning Classification on GAIA DR2 Dataset.” Kolokium ini berlangsung mulai pukul 10.00-12.00 WIB di Gedung Center for Adcvanced Sciences (CAS) ITB, lantai 6, Ruang Seminar. Peserta yang hadir berasal dari kalangan mahasiswa dan dosen Prodi Astronomi ITB.

Gambar 1. Dr. Anton Timur Jaelani (Sumber: md)

Gambar 2. Ridlo W. Wibowo, M.Si. (Sumber: md)

Pada pemaparan materi oleh Dr. Anton Timur Jaelani, dijelaskan mengenai konsep gravitational lensing atau pelensaan gravitasi. Gravitasi yang dimaksud adalah gravitasi antar objek-objek langit. Konsep gravitational lensing ini memiliki banyak kegunaan, salah satunya seperti yang beberapa waktu tengah viral, yaitu untuk pertama kalinya didapat foto Black hole. Foto ini sebenarnya didapat dari efek pelensaan gravitasi. Pada gambar Black hole terlihat cahaya pada hampir di sekeliling Black hole tersebut. Hal itu tidak lain adalah efek cahaya yang dibelokkan dari  konsep gravitational lensing. Pada kolokium ini Dr. Anton Timur Jaelani memaparkan materi terkait gravitational lensing dengan bantuan Hyper Suprime-Cam SSP.

Pemaparan materi oleh Ridlo W. Wibowo, M.Si. berjudul, Star-Galaxy-AGN Classification in GAIA DR2 using Machine Learning Algorithm Random Forest. Materi ini berisi tentang informasi terkait klasifikasi Bintang, Galaksi, dan Inti Galaksi Aktif pada satelit GAIA DR2 menggunakan algoritma pemprograman Random Forest. Secara definisi, machine learning adalah studi algoritma komputer yang mengimprovisasi secara otomatis melalui pengalaman yang diberikan sebelumnya. Penggunaan machine learning ini dikarenakan saat ini kita mempunya data yang melimpah disertai dengan kemampuan komputasi yang memadai untuk menerapkan metode machine learning. Machine learning mempunyai banyak jenis, namun secara general terbagi ke dalam dua kategori, yaitu unsupervised learning dan supervised learning. Perbedaannya, untuk supervised learning awalnya diberikan suatu masukan tertentu atau dalam kata lain memiliki pola awal yang kita tentukan, sedangkan unsupervised learning tidak. Pada materi yang dibawakan oleh Ridlo W. Wibowo, M.Si. termasuk ke dalam kategori supervised learning.

Dalam metode pemprograman ini, diibaratkan menggambarkan suatu pohon yang cabang-cabangnya adalah pilihan-pilihan dalam kode program yang dibuat. Kumpulan dari pohon-pohon ini yang disebut random forest. Dari cabang-cabang tersebut akan merujuk pada satu cabang terakhir yang bisa disimpulkan sebagai klasifikasi dari objek yang kita masukkan dalam kode program pada metode random forest. Dengan metode ini, kita dapat mengklasifikasikan Bintang, Galaksi, dan Inti Galaksi Aktif. Dari kedua kolokium tersebut, peserta sangat antusias menyimak materi dan beberapa mengajukan pertanyaan. Diskusi seperti ini diharapkan terus berlangsung untuk setiap kolokium atau seminar yang diadakan, agar terus mengasah wawasan dan pemahaman kita terkait isu-isu dalam keilmuan Astronomi. Kolokium serupa akan diadakan pula di Observatorium Bosscha dan dipaparkan oleh Dr. Anton Timur Jaelani pada Rabu, 29 Mei 2019. Beberapa mahasiswa Prodi Astronomi yang memiliki minat yang sama dengan riset beliau, sangat antusias untuk turut hadir pada kolokium tersebut. [md]