Dr. Jorga Ibrahim (10 Maret 1936 – 10 Januari 2020)

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah, Dr. Jorga Ibrahim, purna bakti dosen Prodi Astronomi, FMIPA ITB. Almarhum meninggal dengan tenang pada tanggal 10 Januari 2020 di usia 84 tahun. Almarhum adalah termasuk generasi pertama astronom Indonesia, dan beliau adalah pioner yang membuka jalan bagi studi astronomi teoritis di Indonesia.

Jorga Ibrahim lahir pada tangal 10 Maret 1936 di Pangkalpinang, Pulau Bangka. Beliau menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Matematika dan Astronomi FIPIA UI (Sekarang Prodi Astronomi FMIPA ITB) tahun 1963. Setelah lulus beliau mengajar di Jurusan Astronomi FMIPA ITB. Beliau mempelajari matematika murni pada pendidikan master di University of Kentucky, Amerika Serikat. Beliau menekuni bidang khusus matematika murni, yaitu Deformation Quantization. Setelah menyelesaikan pendidikan masternya di University of Kentucky tahun 1967, beliau melanjutkan pendidikan doktoral di Universite Paris VI pada tahun 1970. Beliau menyelesaikan disertasinya dibawah bimbingan Andre Lichnerowicz, seorang matematikawan kenamaan, dan Yvonne Choquet-Bruhat, seorang fisikawan partikel yang terkenal. Beliau mendapat gelar Docteur d’Etat es Sciences di bidang matematika murni di Perancis pada tahun 1974.

Berkat sumbangsih dan kecerdasannya, beliau dipilih menjadi peneliti di College de France, sebuah lembaga elit yang hanya bisa dimasuki anggota Academie des Sciences Paris. Namanya tetap tercatat sebagai peneliti di sana sampai tahun 1984, meskipun sebelum itu beliau harus pulang ke Indonesia dan mengajar di almamaternya, di (saat itu bernama) Jurusan Astronomi FMIPA ITB.

Jorga merintis kuliah kosmologi modern di Jurusan Astronomi ITB. Selain itu beliau juga memberikan kuliah geometri diferensial, topologi, dan homologi di Program Pascasarjana Jurusan Matematika ITB. Pada tahun 1983 hingga 1984 beliau sempat menjadi pengajar tamu sebagai Associate Professor di Universitas Kyoto, dan Universitas Hiroshima, Jepang.

Pada tahun 1975, beliau diangkat menjadi staf ahli rektor dan pembantu rektor bidang akademis. Beliau juga terpilih sebagai ketua Tim Seleksi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyaring mahasiswa dan sarjana Indonesia yang akan belajar di Perancis. Atas keberhasilannya memimpin Tim Seleksi tersebut, pada tahun 1985 beliau menerima Medaille Oficer de I’Odre National du Merite dari Pemerintah Perancis.

Beliau telah menghasilkan beberapa karya penting di bidang matematika murni, antara lain Kahlerian (Generally Complex Structure) Deformations, Calabi’s Conjecture and First Chern Class, Sur les Zeros des Vecteurs Holomorphes des Certaines Varietes K√§hleriennes, dan Fibres Vectoriels, Holomorphes, Stuctures Symplextiques ou Unimodulaires Complexes
Exactes.
Atas pencapaiannya dalam bidang ilmu, beliau meraih penghargaan Achmad Bakrie Award bidang Sains pada tahun 2007.

Dr. Jorga Ibrahim dikenal oleh koleganya sebagai seorang ilmuwan brillian yang bersuara lembut. Saat berdiskusi atau sekedar bertegur sapa, kelebutan suaranya menyiratkan keteduhan.
Meski telah purna bakti pada tahun 2001, namun beliau tetap melanjutkan aktivitasnya sebagai ilmuwan seperti biasa. Beliau masih terlihat setiap hari datang ke kampus dan bekerja di ruangannya di Prodi Astronomi ITB. Di penghujung usianya, beliau masih aktif meneliti, diantaranya menggarap program komputasi quantum sambil ditemani oleh musik klasik kegemarannya.

Selamat jalan Pak Jorga. Selamat beristirahat dengan tenang.
Semoga semangat dan dedikasimu selalu menjadi contoh bagi ilmuwan-ilmuwan generasi berikutnya.