Orasi Budaya Legenda Cerita Bintang dan Alam Semesta di Tanah Air

oleh | Jun 2, 2010 | Berita | 0 Komentar

orasi-budayaDalam rangka Pasar Seni ITB 2010 yang akan diadakan pada tanggal 10-10-10 mendatang, rekan-rekan panitia dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB mengadakan rangkaian orasi budaya setiap dua/tiga minggu sekali bertempat di Ruang Seminar FSRD ITB dan terbuka untuk umum. Orasi budaya yang diadakan mengambil beragam tema dari berbagai program studi yang ada di ITB. Kegiatan ini bertujuan untuk menginspirasi semua orang tentang keragaman yang ada di ITB dan mengekspresikannya dalam seni.

Orasi budaya kedelapan yang diadakan pada hari Kamis, 27 Mei 2010 bertemakan Legenda, Cerita Bintang dan Alam Semesta di Tanah Air disampaikan oleh Dr. Hakim L. Malasan, staff pengajar program studi Astronomi ITB sekaligus Kepala Observatorium Bosscha, Lembang. Acara dimulai sekitar pukul 16.00 dan dibuka oleh sambutan dari Bapak Tisna Sanjaya selaku ketua umum Pasar Seni ITB 2010.
Dalam orasinya, Pak Hakim menceritakan tentang salah satu rangkaian kegiatan International Year of Astronomy 2009, yaitu Asian Collaboration Project on Asian Myths and Legends of Stars and the Universe yaitu program yang mengumpulkan cerita, mitos, serta legenda tentang bintang dan alam semesta dari kawasan Asia. Selama ini, kita mengenal langit, terutama konstelasi menggunakan nama-nama Yunani dan Romawi, sudah saatnya kita bangga menggunakan nama dan istilah dari negara sendiri.

Keluaran dari program tersebut adalah sebuah buku yang ditujukan untuk umum, khususnya anak-anak jenjang pendidikan dasar yang menarik dan terjangkau. Dalam buku tersebut, Indonesia merupakan salah satu penyumbang cerita terbanyak, antara lain cerita Nini Anteh dari Sunda, Hala na Godang dari tanah Batak, Kilip dan Putri Bulan dari Dayak, dan Pertempuran Matahari dan Bulan dari Kepulauan Mentawai.

Peserta orasi budaya sangat antusias mendengar cerita-cerita lokal yang dipaparkan oleh Pak Hakim yang juga dilengkapi dengan slide berisi gambar-gambar menarik. Seperti yang dituturkan oleh Pak Hakim, “Astronom itu tidak pandai menggambar, sehingga kami butuh teman-teman dari FSRD untuk menggambar gambar imajinasi yang lebih bagus dari yang kami gambar,” kini saatnya dibangun kolaborasi antara astronomi dan seni rupa. (JS)