Sabtu (18/02) lalu sekitar pukul 09:20 WIB, diadakan pelatihan image processingatau pemrosesan citra di Wisma Kerkhoven, Observatorium Bosscha (Lembang). Pelatihan ini adalah tahap kedua dari pelatihan yang diadakan pada hari yang sama, dua minggu sebelumnya.

Dinamakan dengan embel-embel ‘for nerds and dummies’ karena acara ini tidak terlepas dari mahasiswa beserta keluarga besar Astronomi ITB, yang terdiri dari berbagai latar belakang tingkatan pendidikan. Latar belakang inilah yang menjadi sebuah tantangan dalam pelaksanaannya; bagaimana caranya kita dapat menyatukan pandangan dummies dengan nerds.

Tujuan awal pelatihan yang sudah direncanakan sejak lama ini semata-mata adalah untuk mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Dilatarbelakangi oleh keinginan untuk meningkatkan layanan kegiatan pendidikan di Observatorium Bosscha,” ujar Muhammad Yusuf, yang ditemui setelah pelatihan berakhir, “kita ingin mengajak elemen mahasiswa yang—masih ada di antaranya—kurang mendapatkan kegiatan tambahan, terutama yang bertujuan untuk menunjang keprofesian.”

“Kalau sudah aktif kembali, kita ingin meningkatkan kegiatan penelitian—yang merupakan salah satu dari Tri Dharma Perguruan Tinggi—menjadi sebuah kultur dan atmosfer berkelanjutan di Observatorium Bosscha, yang selama ini telah terbina dengan baik. Dengan terciptanya suasana nyaman dan kondusif, kegiatan ini akan menunjang penerapan perkuliahan dan membagi pengetahuan, dengan harapan bahwa wawasan anggota forum meningkat,” lanjutnya. “Image processingsendiri dipilih sebagai topik karena merupakan hal yang krusial dalam astronomi.”

Pelatihan yang direncanakan dilakukan dua minggu sekali ini sebenarnya masih mencari bentuk tetap untuk ke depannya. Jika dibutuhkan, mungkin akan ada satu pertemuan yang isinya pengamatan untuk mengambil data yang akan diproses. Selain itu, pengaturan jadwalnya juga menjadi tantangan sendiri, mengingat kegiatan mahasiswa yang masih cukup padat.

Peserta pelatihan ini sendiri mengakui merasa senang dengan adanya kegiatan-kegiatan serupa. Banyak yang merasa pemrosesan citra menggunakan IRAF merupakan kegiatan refreshing tersendiri. “Kita bisa mengulik-ngulik dan belajar banyak hal baru,” ujar Retno Dyah Hapsari, salah satu peserta pelatihan, yang diamini oleh salah satu rekannya, Afidah Dzikra. Lain lagi dengan Gerhana Puan, salah satu peserta pelatihan lainnya, yang mengaku mengikuti pelatihan untuk belajar mengenai PSF, atau point spread function.

“Yang penting orang datang, berkumpul, ngobrol, senang, dan merasa nyaman. Sesuatu yang berhubungan dengan keprofesian, toh, tidak harus dimulai dengan sesuatu yang ‘wah’,” tambah Agus Triono PJ, mengakhiri pembicaraan kali itu. [hre]