Sistem waktu atau kalender merupakan suatu hal yang penting bagi kehidupan manusia. Kita biasa menggunakannya untuk berbagai hal, salah satu contoh sederhananya adalah  menentukan jadwal pertemuan dengan rekan kerja, Berbicara mengenai kalender, terdapat berbagai jenis kalender di dunia ini, salah satunya adalah Kalender Hijriyah. Kalender ini biasa digunakan umat muslim untuk kepentingan peribadahan, khususnya shaum atau puasa Ramadhan. Untuk menentukan waktu mulai dan selesainya masa shaum Ramadhan, kita perlu mengetahui keberadaan hilal.

Berbicara mengenai hilal, pada Kamis (07/03/19) dilaksanakan workshop mengenai pengamatan hilal Rajab 1440 H yang diselenggarakan oleh Observatorium Bosscha. Selain itu dipaparkan pula mengenai dark sky preservation atau kelestarian langit gelap. Acara ini diadakan di Wisma Kerkhoven, Obersvatium Bosscha, Lembang, Jawa Barat. Acara berlangsung dari pukul 14.00 – 18.45 WIB. Ada tiga pembicara dalam acara ini, yaitu Premana W. Premadi, Ph. D. selaku Kepala Observatorium Bosscha, Dr. Moedji Raharto dari Kelompok Keahlian (KK) Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Muhammad Yusuf, S. Si. selaku peneliti Observatorium Bosscha. Peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan, seperti mahasiswa; wartawan; perwakilan dari kementrian agama, salah satunya H. Ismail Fahmi, S. Ag.; peneliti dari Kyoto, Jepang; serta warga setempat. Acara ini bertujuan untuk mengedukasi dan melakukan sosialisasi terkait hilal dan langit gelap kepada masyarakat umum yang diwakili oleh berbagai kalangan peserta yang telah disebutkan sebelumnya.

Acara dibuka oleh Premana W. Premadi, Ph. D. dengan memberikan sambutan selamat datang kepada peserta yang dilanjutkan dengan pemaparan materi dengan topik “Sarasehan Hilal untuk Komunikasi Masyarakat.” Pemaparan diawali dengan pembahasan kecerlangan langit malam. Beliau memberikan contoh tampilan langit malam untuk tahun 2015 dan 2016. Ternyata kecerlangan langit malam sudah didominasi oleh cahaya artifisial. Hal in terlihat dari tampilan langit malam pada 2016 lebih terang dibandingkan dengan tahun 2015. Terlebih lagi fakta mengejutkannya bahwa peningkatan cahaya artifisial tersebut berasal dari daerah yang underdeveloped hal ini dikarenakan fokus dari daerah tersebut masih kepada electricity atau kebutuhan listrik.

Peningkatan jumlah penggunaan cahaya artifisial ini menyebabkan polusi cahaya. Hal ini disebabkan oleh banyaknya lampu yang dinyalakan pada saat dan keperluan yang tidak tepat, seperti mengarahkan lampu ke langit dan saat tidur. Polusi cahaya sungguh merugikan bagi para astronom utamanya untuk kepentingan pengamatan benda langit. Cahaya benda langit yang merupakan sumber data dari benda langit tersebut akan terkontaminasi oleh cahaya artifisial. Selain itu polusi cahaya juga menyebabkan siklus perkembang-biakkan hewan terganggu.

Gambar 1. Pemaparan Materi oleh Premana W. Premadi, Ph. D. (Sumber: md)

Pemaparan kedua oleh Dr. Moedji Raharto dengan judul “Cita-Cita Besar: Mencari dan Membangun Sistem Kalender Bulan unik atau Kalender Hijriyah.” Kalender ini merupakan satu sistem kalender Bulan yang bisa dipergunakan bersama untuk jadwal kegiatan ibadah umat islam, pencatatan dokumen, serta transaksi. Secara struktur, awal kalender Islam disepakati saat terjadinya peristiwa Hijrah sebagai awal tahun dan tanggal hijriyah, yaitu 01 Muharram 1 H yang bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622 M. Satu tahun terdiri dari 12 bulan, dengan awal bulan ditetapkan dari visibilitas atau keterlihatan hilal.

Secara filosofi dalam bidang sains, hilal dipahami sebagai bagian fenomena fasa Bulan, sabit Bulan yang tipis setelah konjungsi. Saat ini terdapat beberapa kriteria dari visibilitas hilal yang kita ketahui salah satunya kriteria taqwim standar, yaitu tinggi > 2°, elongasi > 3° dan usia > 8 jam. Awal bulan baru dimulai ketika maghrib yang juga merupakan tanda dari awal hari. Dalam kalender ini struktur hari yang berjumlah 7 hari dalam satu pekan. Nama-nama hari yang digunakan di Indonesia juga merupakan pengaruh dari nama-nama hari dalam Bahasa arab, contohnya jika dalam bahasa Arab bernama yaum al Jumu’ah, maka dalam bahasa Indonesia bernama hari Jum’at.

Berbicara mengenai hari, hari libur nasional pun dikelompokkan berdasarkan sistem kalender yang digunakan. Untuk Kalender Matahari, hari libur nasional yang didasarkan padanya meliputi tahun baru Masehi, hari buruh internasional, hari lahir Pancasila, Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia (RI), dan lain-lain. Untuk Kalender Bulan, contohnya hari raya Idul Adha, tahun baru Hijriyah, Isra’ Mi’raj, Idul Fitri, dan lain-lain. Untuk Kalender Bulan-Matahari, contohnya tahun baru Imlek, hari raya Nyepi, hari raya Waisak, dan lain-lain. Saat ini pengamatan hilal masih difokuskan untuk data pendukung penetapan awal bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah. Namun saat ini pengamatan hilal belum rutin setiap bulan dilakukan. Untuk mengumpulkan database pengamatan hilal dalam jangka panjang dibutuhkan pengamatan kontinu, metode yang konsisten, serta dilakukan menyebar di wilayah Indonesia.

Gambar 2. Pemaparan Materi oleh Dr. Moedji Raharto (Sumber: md)

Gambar 3. Antusiasme Para Peserta (Sumber: md)

Kemudian acara dilanjutkan oleh pemateri ketiga, yaitu Muhammad Yusuf, S. Si.. Beliau memaprakan materi “Aspek Teknis dan Tantangan Pengamatan Hilal.” Dalam melakukan pengamatan hilal, beberapa parameter yang perlu diperhatikan adalah elongasi, ketinggian, dan umur Bulan seperti pada pemaparan sebelumnya. Selain itu parameter lain yang perlu diperhatikan adalah kontras. Kontras terbagi menjadi dua, yaitu kontras gelap-terang, dan kontras warna. Terkadang dalam melakukan pengamatan hilal, kita tidak menemukan hilal tersebut. Hal ini mungkin dikarenakan oleh adanya awan sehingga hilal tertutupi olehnya atau dalam kata lain kontrasnya rendah.

Terdapat tiga faktor penyebab rendahnya kontras, pertama adalah atmosfer. Ketika cahaya dari benda langit memasuki atmosfer dengan massa udara yang tipis maka kontrasnya tinggi sedangkan jika massa udara yang terlewatinya tebal, maka kontrasnya rendah. Kedua adalah refraksi atmosfer, yaitu suatu efek dari adanya atmosfer yang menyebabkan posisi benda langit terlihat lebih tinggi dari ketinggian aslinya. Ketiga adalah kondisi geometri Matahari, Bumi, dan Bulan yang menentukan tingkat kemudahan dalam pengamatan hilal. Kita ketahui bahwa pengamatan hilal biasa dilakukan saat maghrib, beberapa menit setelah Matahari terbenam. Namun menurut Muhammad Yusuf S. Si. pengamatan hilal juga bisa dilakukan di siang hari. Ketika sudah terlihat hilalnya, maka dilakukan trace Bulan tersebut hingga Matahari terbenam.

Gambar 4. Pemaparan Materi oleh Muhammad Yusuf S. Si. (Sumber: md)

Muhammad Yusuf S. Si. merupakan salah satu di antara dua orang di dunia yang dapat mengamati hilal pada saat konjungsi 0° atau dengan kata lain pada saat hilal berumur 0 jam. Satu orang lainnya berasal dari Jerman. Dalam melakukan pengamatan hilal, terdapat beberapa instrumentasi yang perlu disiapkan. Pertama, Teleskop yang berkualitas tinggi, diameter yang tidak terlalu besar ataupun kecil, serta kombinasi panjang fokus dan ukuran sensor yang tepat. Kedua, mounting atau tempat teleskop menempel untuk bergerak, diperlukan mounting yang kokoh, memiliki kemampuan goto, serta dapat bergerak di dua sumbu (asensiorekta dan deklinasi). Ketiga, kamera dengan resolusi dan frame rate yang tinggi. Keempat, filter yang tidak terlalu kedap. Kelima, Baffle atau alat untuk menghalangi hamburan cahaya Matahari. Di dalamnya diberi kisi-kisi yang bentuknya tajam.

Gambar 5. Pengamatan Hilal oleh Muhammad Yusuf S. Si. dan H. Ismail Fahmi, S. Ag. (Sumber: md)

Setelah selesai pemaparan materi, peserta dipersilakan untuk beristirahat dan menyantap hidangan yang telah disajikan. Kemudian acara dilanjutkan dengan sesi diskusi sekitar 15 menit. Selanjutnya acara memasuki sesi pengamatan hilal. Namun sebelum itu, terdapat demonstrasi assembly atau penyetelan teleskop oleh tiga mahasiswa astronomi. Setelah itu seluruh peserta diajak ke luar ruangan untuk melakukan pengamatan hilal. Namun, dikarenakan kondisi langit yang berawan, maka pengamatan hilal tidak bisa dilakukan sehingga beberapa wartawan melakukan sesi wawancara dengan salah satu pemateri acara, yaitu Muhammad Yusuf S. Si. Acara diakhiri dengan pembagian sertifikat, pembatas buku yang bergambar keindahan langit malam Kupang, Nusa Tenggara Timur, serta flyer edukasi terkait polusi cahaya. [md]