Pada hari Sabtu tanggal 29 Agustus 2020, Observatorium Bosscha mengadakan Pengamatan Virtual Langit Malam episode yang ke-empat. Kegiatan ini memang sudah rutin diadakan setiap hari Sabtu malam sejak 8 Agustus 2020. Episode kali ini membahas tentang “Eksoplanet: Perjalanan panjang menemukan dunia lain” bersama dengan Prof. Dr. Taufiq Hidayat (Ketua KK Astronomi ITB) dan Muhammad Yusuf (Astronom Observatorium Bosscha). Acara dimulai dengan pengenalan Observatorium Bosscha lewat video yang ditampilkan oleh pewara yang bertugas saat itu, yaitu Yatny Yulianty. Semenjak pandemi Covid-19 ini, Observatorium Bosscha ditutup untuk umum dan hanya diperuntukkan bagi astronom yang ingin melakukan pengamatan. Kejadian ini pun menjadi inisiasi diadakannya pengamatan virtual yang bisa diikuti oleh para peserta melalui platform Zoom Meeting dan juga disiarkan secara langsung di kanal youtube Observatorium Bosscha. Pada malam itu, Yusuf sebagai pengamat eksoplanet di Observatorium Bosscha melakukan pengamatan menggunakan Teleskop Robotik Bosscha yang berada di Gedung Surya. Beruntung sekali saat itu cuaca sedang cerah sehingga objek pengamatan bisa dilihat dengan baik. Pak Taufiq menyampaikan, ketika langit malam sedang cerah biasanya kita bisa melihat ribuan bintang, baik secara langsung ataupun menggunakan bantuan teleskop. Lalu, di antara ribuan bintang ini mana yang bisa dikatakan sebagai planet? Bagaimana mengenali planet dan bintang? Planet tidak memancarkan cahayanya sendiri. Planet bisa terlihat di langit karena ia memantulkan cahaya dari bintang induknya. Apa yang dimaksud dengan eksoplanet? Eksoplanet adalah planet-planet yang ada di luar Tata Surya. Pencarian eksoplanet ini telah dilakukan secara teleskopik sejak tahun 1930an dan baru ditemukan dengan bukti meyakinkan pada tahun 1992. Jumlah eksoplanet yang ditemukan kini terus bertambah. Hingga saat ini telah terkonfirmasi ada ribuan planet di luar Tata Surya yang mengitari sistem bintang dan membentuk sistem keplanetan. Saat sesi pengamatan, Yusuf menunjukkan citra planet Jupiter yang teramati dari teleskop. Meski Jupiter sedang berada di dekat Bulan, citra Jupiter yang diperoleh masih terlihat jelas. Tampak pula dua satelit alami Jupiter yang sedang melintas atau transit di depan Jupiter. Bayangan satelit yang transit ini terlihat seperti noda hitam di permukaan Jupiter. Fenomena transit satelit tersebut juga menggambarkan peristiwa transit eksoplanet di depan bintang induknya. Metode fotometri transit telah digunakan untuk pengamatan eksoplanet di Observatorium Bosscha selama beberapa tahun terakhir ini. Prinsip dari pengamatan dengan fotometri transit ini adalah membuat kurva cahaya saat terjadi transit eksoplanet, kemudian menganalisisnya lebih lanjut untuk mendapatkan informasi fisis eksoplanet. Metode ini bisa dilakukan oleh siapapun yang hobi mengamat karena bisa dilakukan menggunakan peralatan yang sederhana, ujar Pak Taufiq. Selain transit, eksoplanet juga dapat dideteksi dengan menggunakan metode kecepatan radial. Dengan metode ini, gerak dua benda pada pusat massanya dapat teramati dari pergeseran garis spektrumnya saat kedua benda tersebut saling menjauh dan mendekat. Fenomena ini disebut dengan efek Doppler yang digunakan oleh para astronom untuk menentukan kecepatan radial bintang. Dari besarnya pergeseran garis spektrum, dapat ditentukan massa benda yang mengorbit bintang dan memperkirakan keberadaan planet dalam sistem bintang tersebut. Awalnya, eksoplanet yang ditemukan berupa planet raksasa seperti Jupiter atau Saturnus pada jarak orbit yang sangat dekat dengan bintang induknya, atau dua ratus kali lebih dekat daripada jarak Jupiter-Matahari, sehingga planet tersebut dikatakan sebagai “Jupiter Panas”. Contoh eksoplanet raksasa seperti ini adalah planet OGLE-TR-56b yang memiliki massa 1,45 kali massa Jupiter dan memiliki radius orbit 0,0225 kali jarak Bumi-Matahari atau sekitar 3,4 juta km. Namun di pertengahan tahun 1990-an, dicetuskanlah misi Kepler yang ditujukan untuk mengamati eksoplanet di daerah rasi Cygnus. Dari misi tersebut ditemukan banyak eksoplanet yang beragam ukurannya, mulai dari yang lebih besar dari Jupiter hingga berukuran lebih kecil dari Bumi. Hingga kini, astronom masih terus mencari eksoplanet yang memiliki karateristik seperti Bumi, yang bisa dihuni makhluk hidup.  Di antara eksoplanet yang telah ditemukan, ada juga planet yang ditemukan pada sistem bintang ganda. Eksoplanet yang ditemukan oleh misi Kepler diberi nama planet Kepler dan diberi penomoran sesuai urutan penemuan atau pendekteksian planetnya. Seperti pada episode sebelumnya, di kegiatan pengamatan virtual kali ini pun peserta antusias  memberikan pertanyaan mengenai eksoplanet kepada para narasumber. Pak Taufiq menjelaskan bahwa perjalanan antarbintang akan menjadi perspektif di masa depan. Saat ini bisa dilihat dari film-film science fiction yang menggambarkan kehidupan di luar Bumi. Tayangan pengamatan virtual episode keempat ini dapat disimak di tautan berikut ini. [Farida Fikrianisa]