Pada Sabtu, 30 Oktober 2021, Kelompok Keahlian (KK) Astronomi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati 70 Tahun Pendidikan Tinggi Astronomi di Indonesia dengan tema PANORAMA (Pendidikan AstroNOmi dan kolaboRAsi di Masa depAn).

Rangkaian kegiatan yang berlangsung hari ini adalah Seminar Panorama Antariksa (SPA), Virtual Open House Observatorium Bosscha, dan Kumpul Daring Alumni yang semuanya dilaksanakan secara daring. Pada sehari sebelumnya juga telah berlangsung Seminar Pendidikan yang mendatangkan pembicara dan peserta dari berbagai institusi/lembaga.

Seminar Panorama Antariksa (SPA)

Penyelenggaraan Seminar Panorama Antariksa (SPA) bekerja sama dengan Himpunan Astronomi Indonesia (HAI). Seminar diisi dengan presentasi oleh 55 presenter kontributor yang terdiri atas 44 pembicara oral dan 11 pembicara poster. Presenter terdiri atas para peneliti ataupun pegiat astronomi dari berbagai institusi, lembaga, dan komunitas, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Para presenter ini merupakan peserta terpilih yang sebelumnya telah mengirimkan abstrak paper dan melalui tahapan seleksi. Topik yang diangkat pada presentasi ini sangat luas, mulai dari Matahari, Fisika Bintang, Tata Surya, & Eksoplanet; Astrofisika Teoretik, Galaksi, & Kosmologi; Instrumentasi & Fasilitas Astronomi; Pendidikan Astronomi dalam Era Teknologi 4.0; Keilmuan Multidisiplin terkait Astronomi; serta Popularisasi, Komunikasi, & Public Outreach Astronomi. Seminar Panorama Antariksa (SPA) ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas riset astronomi dan bidang terkait serta menjadi wadah pertukaran informasi dan pengetahuan bagi para pegiat astronomi di Indonesia.

Sesi presentasi oral oleh kontributor yang berasal dari University of Manitoba, Canada

Presentasi oral dimulai pukul 08.00 WIB. Presentasi dibagi menjadi tiga sesi paralel di dua ruangan, yaitu ruang A dan B. Masing-masing presenter oral diberikan waktu 10 menit untuk presentasi dan 2 menit untuk tanya jawab. Sedangkan presentasi poster berlangsung mulai pukul 13.00 WIB – 14.30 WIB melalui platform Gather Town. Pada platform ini, ditampilkan 11 poster dari kontributor dan ada juga 8 poster lain dari institusi astronomi Jejaring Observatorium dan Planetarium Indonesia (JOPI) serta Jambore Nasional Klub Astronomi (JANAKA). Menariknya, platform Gather Town ini dapat menggabungkan video call dengan peta 2D sehingga memungkinkan peserta seminar berjalan-jalan di platform tersebut, baik untuk melihat masing-masing poster maupun saling berdiskusi. Akses untuk melihat poster ini dibuka mulai 29 Oktober 2021 pukul 07.00 hingga 30 Oktober 2021 pukul 23.59 wib.

Suasana di platform Gather Town. Peserta dapat menampilkan poster sekaligus berinteraksi atau berdiskusi langsung.

Presentasi dari berbagai hasil penelitian ini menunjukkan begitu beragamnya penelitian yang dapat digali dari bidang astronomi, baik oleh astronom profesional maupun amatir, sehingga diharapkan seminar ini juga dapat menumbuhkan inspirasi untuk kolaborasi antar pegiat astronomi. Seminar diakhiri dengan pengumuman student best presenter yang diraih oleh  Janette Suherli dari  University of Manitoba, Muhammad Daud dari Institut Teknologi Bandung, dan Aurellio Deandra dari Institut Teknologi Bandung, serta best poster.yang diraih oleh Meryani Puji Lestari dari Institut Teknologi Bandung.

Kumpul Daring Alumni

Kegiatan lain yang dilakukan adalah kumpul daring alumni yang dilaksanakan mulai pukul 18.30 WIB. Pengadaan kegiatan ini bekerja sama dengan Ikatan Alumni Astronomi ITB serta dihadiri oleh banyak alumnus Program Studi Astronomi ITB dari berbagai angkatan. Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat jaringan alumni dan menjadi bahan evaluasi yang baik bagi Program Studi Astronomi ITB.

Open House Virtual Bosscha

Pada kegiatan Open House Virtual Bosscha yang dilaksanakan mulai pukul 19.30 WIB, peserta diajak ‘tur’ secara virtual untuk mengenal teleskop-teleskop yang ada di Bosscha beserta penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Bosscha. Tur ini diawali dengan penjelasan mengenai refraktor ganda Zeiss oleh Mahasena Putra dan Muhammad Yusuf. Teleskop ini adalah salah satu teleskop paling ikonik yang dimiliki Observatorium Bosscha. Teleskop yang disimpan di dalam kubah Kupel ini banyak digunakan untuk pengamatan bintang ganda. Selanjutnya, Ikbal Arfiyanto menjelaskan mengenai riset gugus terbuka di Observatorium Bosscha bersama dengan Denny Mandey yang menjelaskan mengenai Teleskop STEVia. Teleskop STEVia saat ini sedang digunakan untuk penelitian gugus bintang terbuka yang tujuannya untuk mengamati variabilitas yang mungkin terdeteksi pada gugus bintang terbuka. Kemudian, Evan I. Akbar bersama Irfan Imaduddin menjelaskan mengenai pengamatan spektroskopi dengan perekaman citra atau spektrum, serta menjelaskan juga mengenai pengolahan datanya. Mereka dibantu oleh M. Fajrin yang sedang berada di ruangan Teleskop GOTO.

Pada malam hari ini seharusnya dilakukan demo pengamatan. Namun, cuaca sedang berawan sehingga objek sulit diamati. Muhammad Yusuf, dengan teleskop Zeiss mencoba untuk mengamati Jupiter tetapi sayangnya fitur-fitur pada Jupiter tidak terlalu terlihat dengan jelas. Begitu juga dengan demo pengamatan teleskop lainnya yang tidak dapat berlangsung dengan baik.

Demo pengamatan yang sedang dicoba dilakukan tetapi cuaca langit tidak mendukung

Saat ini, Bosscha juga memiliki teleskop yang cukup baru, yaitu Bosscha Robotic Telescope (BRT). Muhammad Yusuf menjelaskan mengenai teleskop ini, mulai dari keuntungan teleskop robotik sampai cara penggunaannya. Teleskop robotik ini memudahkan pengamatan karena sistemnya yang bekerja secara otomatis serta dapat menghasilkan data yang lebih akurat.

Penjelasan terakhir dari kegiatan malam hari ini adalah mengenai public outreach Observatorium Bosscha yang dijelaskan oleh Yatny Yulianty. Sejauh ini, Observatorium Bosscha sudah banyak melakukan kegiatan public outreach, mulai dari menerima kunjungan dan juga aktif ke sekolah-sekolah di berbagai daerah untuk menyebarkan keilmuan astronomi. Public outreach oleh Observatorium Bosscha penting dilakukan karena Observatorium Bosscha juga memiliki tanggung jawab untuk melakukan pengabdian masyarakat dalam rangka menjalankan tri dharma perguruan tinggi, serta untuk mengakomodasi keingintahuan publik akan aktivitas observatorium maupun tentang keilmuan astronomi. [Beta Miftahul Falah]