Sabtu, 29 Agustus 2020, Kelompok Keahlian Astronomi Institut Teknologi Bandung (KK Astronomi ITB) telah mengadakan pertemuan pertama dalam workshop daring berjudul Klasifikasi Galaksi dan Virtual Observatory. Pertemuan pertama ini dilaksanakan selama dua jam, dengan Dr. Chatief Kunjaya sebagai pembicara. Workshop yang juga mendapat pendanaan dari Riset Pengabdian Masyarakat ITB ini akan berlangsung setiap hari Sabtu selama delapan pekan ke depan, hingga tanggal 17 Oktober 2020.

Acara ini diawali dengan sambutan dari ketua penyelenggara, Dr.rer.nat. M. Ikbal Arifyanto. Dalam sambutannya, ia mengatakan bahwa kegiatan ini dimotivasi oleh keinginan para astronom agar klub atau komunitas astronomi amatir dari berbagai daerah dapat aktif melakukan berbagai kegiatan yang menyenangkan agar dapat mengikat para anggotanya untuk tetap mendalami ilmu astronomi. Karena itulah mayoritas peserta kegiatan ini berasal dari berbagai komunitas astronom amatir yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia.

Senada dengan Ikbal, Kunjaya juga menyebutkan bahwa program ini memang ditujukan untuk para astronom amatir, dengan harapan mereka dapat menggali sendiri sumber data astronomi yang melimpah.  Tujuannya untuk membantu para astronom profesional dalam melakukan risetnya, atau bahkan dapat melakukan riset mandiri yang dapat dipublikasikan dalam bentuk jurnal. Hal tersebut ia sampaikan berdasarkan pengalamannya selama ini yang mendapat bantuan dari para astronom amatir saat melakukan riset dengan topik bintang variabel.

Pertemuan perdana ini sendiri masih belum membahas topik utama, yakni pengklasifikasian galaksi. Peserta workshop terlebih dahulu diperkenalkan dengan dasar-dasar astrofisika. Materi pendahuluan yang diberikan kali ini adalah gelombang elektromagnetik. Materi tersebut penting untuk disampaikan agar peserta dapat memahami bagaimana informasi astronomi diperoleh.

Pada pemaparan tersebut, Kunjaya menunjukkan perbedaan informasi yang didapatkan di berbagai panjang gelombang elektromagnetik. Selain itu, dipaparkan pula tentang hubungan distribusi energi gelombang elektromagnetik dengan berbagai parameter fisis lain, seperti temperatur, warna, dan energi total yang dipancarkan oleh sebuah benda langit.

Pemaparan materi tersebut tidak berlangsung lama, hanya 30 menit. Paparan kemudian berlanjut ke topik utama pertemuan perdana kali ini, yakni tata koordinat benda langit. Pada sesi ini, peserta dikenalkan dengan beberapa macam koordinat benda langit, yakni koordinat geografis yang biasa ditemui di peta, koordinat horizon, dan koordinat ekuatorial yang sering digunakan di astronomi. Sebenarnya masih ada dua koordinat lagi, yakni koordinat ekliptika dan galaksi. Namun pemateri memutuskan tidak menyampaikannya karena tidak akan banyak disinggung di workshop ini. Usai menjelaskan penggunaan koordinat ekuatorial, peserta ditunjukkan cara menggambarkan posisi benda langit di bola langit dan bagaimana menentukan waktu yang tepat untuk mengamati objek tersebut.

Acara ini diakhiri dengan diskusi yang belangsung interaktif. Salah satu kesulitan yang disampaikan peserta adalah tentang imajinasi ruang dalam menggambarkan koordinat langit. Peserta kemudian saling bertukar pendapat tentang bagaimana cara terbaik memahami materi yang telah disampaikan.

Kegiatan bersifat daring seperti ini cukup diminati oleh peserta. Selain untuk bertegur sapa di tengah pandemi Covid-19 dan menuntut ilmu, biaya yang diperlukan murah karena tidak membutuhkan biaya perjalanan atau tempat tinggal, cukup koneksi internet saja. Dengan demikian, banyak komunitas astronom di berbagai penjuru Indonesia yang dapat mengikuti workshop ini. Sebaran profesi peserta pun beragam, mulai dari murid, mahasiswa, guru, hingga staf planetarium. Dengan adanya acara ini, muncul harapan komunitas astronom amatir di Indonesia dapat semakin berkembang dan aktif berpartisipasi dalam memajukan dunia astronomi di Indonesia. [Ahmad Zulfikar]