Rika Rahida Survei Daerah Orbit Asteroid yang Mengalami Lompatan Orbital dengan Mengambil Kasus Resonansi 23 dan 32 dengan Bumi

oleh | Jun 14, 2011 | Berita | 0 Komentar

Dahulu, studi mengenai dinamika benda kecil tata surya lebih khusus membahas tentang benda-benda kecil yang berada di sekitar planet Jupiter. Planet kelima dalam kompleks planet yang diketuai oleh Matahari ini merupakan planet terbesar dari pada planet sejawatnya sehingga memiliki gangguan yang cukup besar pula pada benda kecil yang berada di sekitarnya. Salah satu benda kecil yang patut ditelaah geraknya adalah asteroid yang mayoritas ditemukan di daerah sabuk utama, di antara orbit planet Mars dan Jupiter. Karakter pergerakan orbit benda kecil antariksa yang berdasarkan komposisi penyusunnya dibagi menjadi tiga jenis, yakni batuan, batuan besi, dan besi, ini cenderung lebih eksentrik dari planet. Terlebih dalam satu dekade terakhir, kestabilan dinamika gerak dari asteroid ini menjadi sorotan yang penting dan menarik untuk dijadikan objek penelitian.

Daya tarik dinamika gerak astreroid inilah yang akhirnya membuat Rika Rahida untuk meneliti lebih jauh tentangnya. Kali ini, dalam rangka menuju akhir studinya, mahasiswi astronomi angkatan 2007 ini mengangkat tema seminar tugas akhir tentang asteroid yang mengalami lompatan orbital. “Intinya, saya membahas tentang lompatan asteroid menuju interior ataupun eksterior planet induknya.”, jelasnya. Gadis berkerudung ini mengatakan bahwa dari pengamatan telah diketahui beberapa obyek yang berada di eksterior Jupiter dan berada di interior Jupiter ternyata merupakan obyek yang sama. Dinamika obyek mini luar angkasa ini berkaitan dengan gerak resonansi mean-motion yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan lompatan resonansi (resonance hopping) atau lompatan orbital (orbital hopping). Lompatan resonansi ini adalah lompatan orbital yang bersamaan dengan peralihan resonansi. Usaha asteroid untuk melakukan lompatan ini ternyata tidak selamanya berjalan dengan mulus. Lompatan ini juga dapat beresiko gagal sehingga obyek menghantam planet induk, seperti yang terjadi di Jupiter dan baru-baru ini di Bumi.

Untuk mewujudkan hasil yang sesuai dengan tujuan pengerjaan tugas akhir, yaitu mengetahui daerah orbit asteroid di dekat Bumi yang mengalami lompatan orbital, maka dilakukan survei daerah orbit asteroid yang mengalami lompatan orbital dengan mengambil kasus resonansi 2:3 dan 3:2 dengan Bumi. Kasus tersebut adalah gambaran dari periode revolusi dua benda yakni planet induk Bumi dan asteroid, dengan indeks awal merupakan milik Bumi dan indeks akhir milik asteroid. Saat terjadi kasus 2:3 berarti perode gerak revolusi Bumi lebih cepat dari asteroid. Metode yang dilancarkan adalah dengan melakukan integrasi ~200 tahun pada beberapa obyek real dan obyek artifisial dengan menggunakan software integrator SWIFT. Integrasi yang dilakukan pada obyek real ini secara umum menunjukkan bahwa tidak ada obyek real yang mengalami lompatan orbital. Namun pada obyek artifisial didapati kecenderungan lompatan orbital, kerap terjadi pada obyek dengan nilai eksentrisitas ~0.3 dan inklinasi 0° sekitar ekliptika. Nilai eksentrisitas 0.3 ini berkaitan dengan daerah perturbasi planet terrestrial yang memicu terjadinya lompatan orbital. Oleh karena itu, pekerjaan selanjutnya adalah melakukan survei pada daerah tersebut yang bersesuaian dengan daerah resonansi 2:3 dan 3:2 dengan Bumi. “Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa dalam skala 200 tahun hanya sekitar satu hingga dua asteroid saja yang mengalami lompatan orbital. Tapi kita belum tahu tentang keberhasilan dari lompatan itu. Kalau berhasil, Bumi kita akan aman-aman saja. Kalu tidak, ya Bumi kita bisa tertabrak. Berdoa saja.”, tambahnya.

Putri satu-satunya dari pasangan Bapak Abdul Rahim dan Ibu Andinaida ini cukup mahir pada bidang dinamika gerak. “Saya lebih memilih dinamika gerak dari pada proses kimiawi di bintang. Maka itu, saya mantap memilih asteroid.”, ujarnya. Gadis kelahiran 7 Oktober 1989 ini berharap studinya di astronomi lancar dan berhasil mencapai target kelulusan di bulan Oktober tahun 2011 ini. Mahasiswi bimbingan Dr. Budi Dermawan ini juga tergabung dalam komunitas aktifis dakwah kampus ITB. Keseharian kuliahnya juga diseimbangkan oleh kajian-kajian ruhaniah dan menjadi asisten dosen, khususnya mata kuliah agama. Rika, nama akrabnya, berencana akan langsung bekerja di tanah kelahirannya, Balikpapan, selepas masa status kemahasiswaannya berakhir di Sabuga ITB.