Pendidikan tinggi astronomi di Indonesia kini telah memasuki usia ke-70 tahun. Di usia yang cukup matang ini, astronomi telah dipandang secara lebih luas dibuktikan telah banyak komunitas-komunitas yang juga menggalakkan pendidikan astronomi dengan berbagai macam cara. Untuk memperingati momen 70 Tahun Pendidikan Tinggi Astronomi di Indonesia tersebut, Kelompok Keahlian (KK) Astronomi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan Seminar Pendidikan yang merupakan bagian dari rangkaian acara Peringatan 70 Tahun Pendidikan Tinggi Astronomi di Indonesia dengan jargon PANORAMA (Pendidikan AstroNOmi dan kolaboRAsi di Masa depAn). Seminar yang dilaksanakan secara daring pada Jumat, 29 Oktober 2021 ini dihadiri oleh pembicara dan peserta dari berbagai institusi/lembaga baik yang terlibat secara langsung dengan pendidikan astronomi maupun yang memiliki timbal balik dengan pendidikan astronomi.

Seminar dibuka oleh Prof. Taufiq Hidayat, DEA mewakili Dekan FMIPA Prof. Ir. Wahyu Srigutomo, S.Si., M.Si., Ph.D. Beliau mengucapkan rasa syukur karena pendidikan astronomi di Indonesia pada usia yang ke-70 tahun ini sudah cukup berkembang dan diharapkan ke depannya akan terus tumbuh.

Gambar Zoom

Sesi ceramah dan tanya jawab dengan Prof. Dr. Richard de Grijs dari IAU

Seminar ini menghadirkan Prof. Dr. Richard de Grijs selaku President of Division C Education, Outreach and Heritage of IAU (International Astronomical Union). Beliau mengisi ceramah dan tanya jawab yang dipandu Kiki Vierdayanti. Ceramah tersebut menjelaskan tentang strategi IAU khususnya dalam jangka waktu 2020-2030 untuk menjadikan astronomi sebagai alat untuk perkembangan dunia serta menjelaskan mengenai program IAU yang berkaitan dengan pendidikan astronomi di dunia. Program yang diadakan IAU tersebut misalnya ISYAs (International School for Young Astronomers) yang didukung dengan adanya Office for Young Astronomers (OYA) untuk mengawasi program tersebut. Program ISYAs ditujukan untuk memperluas perspektif tentang ilmu astronomi dengan pengadaan kuliah, seminar, pelatihan, observasi, maupun bertukar pengalaman bagi peserta, para astronom-astronom muda yang terdiri atas mahasiswa magister dan doktor di bidang astronomi. Selain ISYAs yang diadakan untuk tingkat universitas, OYA yang berkoordinasi dengan The IAU Office of Astronomy for Education (OAE) juga mempertimbangkan untuk mengadakan program serupa yang dikhususkan untuk tingkat sekolah.

Selain sesi ceramah, terdapat tiga sesi diskusi panel. Pada sesi Diskusi Panel I, panelis terdiri atas para wakil dari institusi/lembaga/badan pemangku kepentingan bersama dengan Astronomi ITB. Panelis yang hadir adalah astronom senior Prof. Bambang Hidayat, Ketua Program Studi Sarjana Astronomi ITB (Dr. rer. nat. Hesti R. T. Wulandari), Ketua Program Studi Pascasarjana Astronomi ITB (Dr. Aprila), Kepala LAPAN (Prof. Dr. Thomas Djamaluddin), Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Diktiristek RI (Prof. drh. Aris Junaidi, Ph.D.) mewakili Dirjen Dikti Kemendikbud RI, serta Plt Kepala OR Penerbangan dan Antariksa (Prof. Dr. Erna Sri Adiningsih) mewakili Kepala BRIN.

Panel Diskusi zoom

Sesi Diskusi Panel I

Topik yang dibahas pada sesi ini adalah pendidikan astronomi di dalam sistem pendidikan nasional dan juga pendidikan astronomi di dalam dunia pengetahuan, industri, dan teknologi. Sesi diawali dengan pemaparan oleh masing-masing panelis mengenai kaitan topik dengan lembaga yang diwakilinya. Hal-hal yang dibahas oleh para panelis di antaranya mengenai pengenalan program studi astronomu, kebijakan-kebijakan yang dilaksanakan untuk mengembangkan pendidikan astronomi seperti pengadaan Observatorium Nasional, serta penekanan akan pentingnya riset dasar untuk menghasilkan pemanfaatan jangka panjang. Pemaparan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu oleh Premana Premadi. Pengadaan sesi Diskusi Panel I ini ditujukan untuk mendudukkan dan merespons tantangan-tantangan baru dalam pengembangan pendidikan astronomi. Harapannya, hasil dari diskusi ini dapat dipertimbangkan dalam pengambilan langkah strategis demi kebaikan bersama di masa depan.

Sampai hari ini, Prodi Astronom ITB masih menjadi satu-satunya program studi yang secara formal dan lengkap mengajarkan keilmuan astronomi di Indonesia. Meskipun begitu, terdapat banyak perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki keterkaitan dengan bidang astronomi dalam penyelenggaraan pendidikannya, mulai dari perguruan tinggi umum, perguruan tinggi pendidikan, dan perguruan tinggi keagamaan. Pada Diskusi Panel II, terdapat 11 panelis yang terdiri atas perwakilan dari berbagai perguruan tinggi tersebut, seperti Institut Teknologi Sumatera, Universitas Nusa Cendana, Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Indonesia, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Riau, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Universitas Ahmad Dahlan, dan Universitas Gadjah Mada.

Sesi ini dipandu oleh Hesti Wulandari. Sesi diisi dengan penjelasan terkait muatan astronomi yang diselenggarakan oleh masing-pasing perguruan tinggi. Beberapa muatan astronomi tersebut di antaranya ternyata banyak topik riset ataupun tugas akhir mahasiswa yang berkaitan dengan ilmu astronomi, ada juga perguruan tinggi yang memiliki mata kuliah astronomi yang menjadi mata kuliah wajib maupun mata kuliah pilihan. Beberapa perguruan tinggi juga memiliki observatorium seperti Observatorium Ilmu Falak (OIF) UMSU, Observatorium UAD, dan Observatorium Astronomi ITERA Lampung (OAIL). Observatorium-observatoium ini rutin digunakan untuk pengamatan benda langit khususnya pengamatan hilal. Tak kalah menarik, UMSU juga punya tim bengkel astronomi yang menghasilkan sejumlah produk ataupun instrumen astronomi. Lalu, ada ITERA yang memiliki program studi Sains Atmosfer dan Keplanetan. Sesi ini juga diisi dengan diskusi mengenai hal apa saja yang bisa dilakukan oleh berbagai pendidikan tinggi untuk bekerja sama dari sisi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang diharapkan dapat dikembangkan di masa depan.

Zoom panel diskusi

Sesi Diskusi Panel II & III

Berdasarkan studi, astronom profesional memiliki dorongan yang lebih kuat untuk terlibat dalam publik dibanding ilmuwan bidang lain. Namun, daerah di Indonesia yang sangat luas dan jumlah astronom profesional yang cukup sedikit tentu membuat astronom profesional saja tidak cukup untuk menjangkau seluruh daerah di Indonesia. Pada sesi terakhir yaitu Diskusi Panel III, seminar ini menghadirkan perwakilan komunitas-komunitas yang memiliki peran besar dalam popularisasi dan pemasyarakatan astronomi di Indonesia. Komunitas tersebut di antaranya: langitselatan.com, Surabaya Astronomy Club, Planetarium dan Observatorium UP. Pusat Kesenian Jakarta, Himastron ITB, Imah Noong, Planetarium Jagad Raya Tenggarong, dan NASE Indonesia. Masing-masing panelis menceritakan berbagai upayanya agar astronomi tidak hanya dinikmati oleh sebagian orang, tetapi bisa menjangkau ke seluruh masyarakat. Pada sesi ini juga dilakukan diskusi yang memunculkan ide-ide peluang kolaborasi baru antar komunitas guna mengoptimalkan popularisasi dan pemasyarakatan sains dan astronomi yang selaras dengan mandat pendidikan dan pengabdian pada masyarakat.

“Sudah begitu banyak aktivitas-aktivitas terkait astronomi yang dibangun selama sepuluh tahun terakhir. Dibandingkan dengan sekarang, kesepian di astronomi sudah berakhir. Sudah banyak komunitas astronomi yang tersebar dan distribusi geografinya dari Sabang sampai Merauke, bahkan ada juga yang sampai tingkat universitas dengan level yang membanggakan. Semoga hal ini dapat dikembangkan dan dengan berbagai perannya dapat memberikan kontribusi yang penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap sains, khususnya astronomi,” ujar Prof. Taufiq Hidayat di akhir acara sebagai konklusi dari rangkaian kegiatan Seminar Pendidikan ini. [Beta Miftahul Falah]