Rendy Darma
Mahasiswa pascasarjana Prodi Astronomi ITB, Sub-prodi Astrofisika Lanjut


Gugus bintang secara umum dikategorikan dalam dua kelompok, yakni gugus bola (globular clusters) dan gugus terbuka (open clusters). Namun berdasarkan pengamatan yang dilakukan sejak tahun 1990-an menunjukkan keberadaan gugus ganda (binary clusters), di mana gugus bintang saling berpasangan dan mengorbit satu sama lain. Bahkan berbagai pengamatan yang dilakukan menunjukkan keberadaan gugus jamak (multiple system). Hasil studi Priyatikanto (2017) menunjukkan bahwa Bima Sakti memiliki setidaknya 47 gugus, baik gugus ganda maupun jamak. Sementara Awan Magelan Besar (Large Magellanic Clouds) – salah satu satelit Bima Sakti – memiliki jumlah yang lebih banyak, yakni 280 gugus.

Survei MYStiX (Massive Young Star-forming Complex Study in Infrared and X-ray) baru-baru ini mengamati gugus-gugus bintang muda yang masih diselubungi oleh gas sisa pembentukan gugus. Di samping itu ditemukan bahwa kebanyakan gugus bintang memiliki struktur gumpalan (clumpy), bukan bola. Struktur clumpy ini adalah salah satu faktor kunci yang dapat memicu terbentuknya gugus ganda, terutama gugus ganda primordial (primordial binary clusters). Gugus ganda primordial sendiri merupakan gugus ganda yang terbentuk dari keruntuhan satu awan molekul yang sama.

Proses segregasi massa di awal pembentukan gugus untuk model D = 1,6 dan αvir = 0,5. Perbedaan warna menunjukkan bintang-bintang dengan kecenderungan mengelompok pada gugus yang berbeda.

Untuk menggambarkan struktur clumpy gugus bintang muda dan memahami bagaimana proses pembentukan gugus ganda, dibuatlah simulasi menggunakan model fraktal dengan AMUSE framework selama 50juta tahun.

Hasil simulasi menunjukkan adanya proses penggabungan (merger) pada masa awal pembentukan gugus di mana sebagian besar terbentuk pada usia 20 juta tahun. Jumlah gugus ganda semakin berkurang pada usia 50 juta tahun (gambar 1). Hasil ini juga mengonfirmasi mengapa jumlah gugus ganda di Awan Magelan Besar lebih banyak dari pada di Bima Sakti, yaitu disebabkan oleh laju pembentukan bintang di Awan Magellan Besar lebih cepat dari pada Bima Sakti.