Ni Made Ayu Surayuwanti Putri
Mahasiswa pascasarjana Prodi Astronomi ITB, Sub-prodi Pengembangan dan Pendidikan Astronomi


Candi Borobudur merupakan candi terbesar yang ada di Indonesia. Candi peninggalan sejarah yang dibangun dari tahun 800 ini merupakan representasi candi Buddha yang melebur dengan budaya Jawa dan bercerita tentang perjalanan hidup Buddha di ukiran dinding reliefnya. Sebagai sebuah candi agama Buddha terbesar di Indonesia, Candi Borobudur juga mempunyai hubungan dengan astronomi. Ada 9 buah relief yang menggambarkan berbagai jenis perahu layar yang sedang berlayar. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan navigasi laut nenek moyang kita waktu itu sudah cukup tinggi, karena mereka adalah seorang pelaut. Pengetahuan navigasi ini tentunya menyangkut juga tentang astronomi, karena para pelaut menggunakan bintang dan rasi bintang yang nampak di langit sebagai penunjuk arah. Letak candi Borobudur ini dapat menunjukkan empat arah mata angin dengan tepat saat pembangunan candi yang ditunjukan dengan peristiwa vernal equinox dan terdapat bangunan stupa utama yang berfungsi sebagai gnomon (penanda waktu).

Candi Borobudur tersusun dari sepuluh tingkat dari bawah ke atas. Dimulai dari yang paling bawah, tingkat 1 sampai 6 berbentuk segi empat sama sisi, tingkat 7 sampai 10 berbentuk lingkaran. Pengamatan matahari terbit dilakukan di sumbu tangga timur tingkat 7 (gambar dibawah ditunjukkan dengan angka 1), sebaliknya pengamatan Matahari terbenam dilakukan di sumbu tangga barat (angka 2). Titik sumbu tangga timur candi sudah ditentukan terlebih dahulu oleh Balai Konservasi Borobudur (digambarkan dengan tanda putih di lantai candi). Titik ini merupakan titik bagi arah timur yang melalui stupa utama. Dalam pengamatan yang kami lakukan, titik sumbu timur-barat ini digunakan sebagai acuan arah timur-barat candi. Selanjutnya acuan lain adalah arah timur-barat benar, dalam hal ini acuan arah timur-barat benar adalah posisi matahari terbit dan terbenam saat vernal equinox atau yang terdekat dengan vernal equinox.

Candi Borobudur. Sumber: Balai Konservasi Borobudur

Dari pengamatan didapatkan bahwa matahari mulai nampak di horison tangga timur candi di lokasi Candi Borobudur pada tanggal 21 Maret 2010 (vernal equinox) yaitu pada pukul 05.59 WIB (UT+7). Diukur menggunakan theodolit dan hasilnya matahari terbit sejauh 3,5’ busur (ketelitian alat : 25”) ke arah utara dari tangga timur. Theodolit merupakan alat yang berfungsi untuk mengukur besarnya sudut yang dibentuk oleh utara magnet terhadap obyek pengamatan. Besarnya sudut dihitung dari utara magnet ke obyek searah jarum jam.

Nilai pengukuran tersebut cukup kecil bila dibandingkan dengan sudut yang paling besar ditempuh matahari dalam satu tahun di horison timur Borobudur yaitu 30,5◦ kearah utara. Maka diambil asumsi bahwa pada tanggal pengamatan tersebut matahari terbit tepat di horison tangga timur candi. Asumsi kedua yang digunakan yaitu bentuk dan lantai Candi Borobudur tetap dan tidak berubah sejak tahun pembangunannya sampai sekarang . Lantai candi digunakan sebagai penentuan arah tangga.

Gnomon adalah jam matahari yang paling sederhana, terdiri dari sebuah batang yang ditancapkan tegak lurus diatas tanah. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani ”γνωµων” yang artinya sebuah indikator. Berdasarkan sejarah, gnomon ditemukan oleh bangsa Yunani sekitar abad ke 6 SM. Di lain waktu, Herodotus pada abad ke 5 SM mencatat bahwa bangsa Yunani mempelajari gnomon dari bangsa Babylonia karena hal ini memungkinkan juga gnomon dikenal di China dan India.

Ditulis oleh,

Ni Made Ayu Surayuwanti Putri

Mahasiswa pascasarjana Prodi Astronomi ITB, Sub-prodi Pengembangan dan Pendidikan Astronomi

 

 

 

 

 

 

 

 

Jika sebuah tongkat dipasang tegak lurus diatas tanah (Seperti gambar skema Gnomon) dengan tinggi tongkat h maka akan terbentuk bayangan tongkat dengan panjang l . Diketahui juga sebuah sudut ∠a yang merupakan altitude (ketinggian) matahari dari horison pada saat itu. ∠a dicari dengan rumus :

 

Dengan menggunakan diagram zenit-horizon dapat menghasilkan nilai deklinasi matahari yang bergantung terhadap altitude matahari dan lintang pengamat. Nilai deklinasi untuk matahari ini berada pada rentang -23◦27’ < δ < 23◦27’ tanda negatif menyatakan bahwa matahari berada di belahan langit selatan (24 September – 19 Maret) begitupun sebaliknya. Pada zaman dahulu bayangan gnomon digunakan sebagai penanda waktu.

Berdasarkan dari pengamatan, maka dapat disimpukan ketika peristiwa vernal equinox pada tanggal 20 – 21 Maret 2010 di lokasi candi didapatkan data kemiringan posisi Matahari terbit diukur relatif terhadap sumbu pintu timur candi yaitu sebesar 3,5’ busur ke arah utara. Apabila lintasan harian Matahari saat itu mencapai titik kulminasi elevation/altitude sebesar 89,800°, azimuth sebesar 96,9° dan deklinasi Matahari sebesar 7,5° maka jarak zenith Matahari terhadap stupa utama (dianggap sebagai titik pusat candi) ketika vernal equinox tahun 800 adalah 0,20°. Akibatnya adalah jalur puncak bayangan stupa utama pada hari itu akan membentuk garis lurus dan hampir berimpit dengan garis pengubung pintu timur stupa utama dengan pintu barat.