Pertemuan Pascasarjana pada hari Rabu, 19 Februari 2020 dibawakan oleh Adnan. Adnan mempresentasikan topik tentang siklus saros, yang menurut belia, secara sederhana, siklus saros adalah siklus gerhana yang memiliki periode dengan bilangan sekitar 6500-an hari.

Diskusi dimulai dengan tiga periode yang dimiliki oleh Bulan. Di antaranya yaitu periode sinodis, periode anomalistis, dan periode drakonis. Periode sinodis adalah waktu yang dibutuhkan Bulan untuk kembali ke fase yang sama, seperti dari fase bulan baru ke bulan baru berikutnya. Pada periode anomalistik dapat diamati bahwa sumbu rotasi Bulan mengalami presesi atau pergeseran. Pergeseran tersebut searah dengan arah revolusi Bulan mengelilingi Bumi sehingga sudut tempuhnya lebih dari 360°. Ternyata fenomena ini sudah diketahui dan dipelajari sejak zaman Babylonia.

Gerhana Bulan hanya terjadi pada fase Bulan baru atau Bulan purnama, yaitu ketika bulan berada di sekitar titik simpul naiknya  atau titik simpul turunnya. Titik simpul tersebut juga mengalami presesi, sehingga jarak tempuhnya kurang dari periode siderisnya, sehingga kurang dari 360°. Gerhana Bulan memiliki pergeseran ke arah barat belahan Bumi sejauh 8 jam atau 120°.

Sedangkan pada gerhana Matahari selisih harinya tidak selalu sama yaitu sekitar lima sampai enam bulan. Daerah yang bisa mengamati ketika ada gerhana Matahari itu terbatas, dengan perhitungan siklus saros dapat ditentukan daerah mana saja yang bisa mengamati puncak gerhana. Setiap gerhana yang melewati daerah bujur yang sama akan terjadi setiap 18 tahun dan 11,3 hari. Karena ada selisih 1/3 hari tersebut, wilayah yang akan dilewati gerhana akan bergeser ke arah barat belahan Bumi dengan jarak 8 jam atau 120°.

Dalam setahun akan terjadi tujuh kali gerhana yang merupakan gabungan dari gerhana Matahari dan gerhana Bulan. Tujuh gerhana tersebut terjadi memusat pada dua musim gerhana setiap tahunnya. Setiap kali terjadi gerhana Matahari pasti akan diikuti oleh gerhana Bulan, begitupun sebaliknya.

Di akhir sesi, Adnan juga memperkenalkan teknologi terapan yang digunakan untuk memprediksi akan terjadinya gerhana. Salah satunya adalah gawai Antikythera yang muncul di Yunani ribuan tahun yang lalu. Nama antikythera diambil dari nama tempat ditemukannya benda tersebut. Pada gawai Antikythera terdapat simbol-simbol seperti Bulan, Matahari dan beberapa planet. Menurut sejarah, gawai tersebut digunakan untuk menentukan posisi dan pergerakan benda langit di masa depan. [ff]