Sabtu, 25 September 2021, Observatorium mengadakan Temu Virtual Observatorium Bosscha 2021. Temu Virtual Observatorium Bosscha merupakan rangkaian agenda yang berbentuk seminar, workshop, atau talkshow yang diadakan setiap dua bulan. Pada Temu Virtual kali ini, Observatorium Bosscha mengadakan seminar dengan topik seputar Matahari dan cuaca antariksa. Acara dipandu oleh Luthfiandari dengan  narasumber Dr. Dhani Herdiwijaya, seorang dosen Astronomi ITB dan Muhammad Yusuf, seorang astronom dari Observatorium Bosscha yang sering disapa Mas Yusuf. Peserta yang mengikuti kegiatan ini  memiliki latar belakang pendidikan yang beragam dan berasal dari berbagai macam daerah di Indonesia. Sambil menunggu acara dibuka secara resmi, peserta menyaksikan video pengenalan Observatorium Bosscha.

Pada pagi hari yang cerah ini, Luthfiandari, seorang Komunikator Astronomi Observatorium Bosscha yang memandu acara, menyapa dan menyambut para peserta dengan senyum hangat. Luthfi mempersilahkan Kepala Observatorium Bosscha, Bu Nana, untuk memberikan sambutan sebelum masuk ke acara inti. Bu Nana berterima kasih kepada para narasumber yang bersedia meluangkan waktu untuk berbagi kepada para peserta dan berterima kasih juga kepada para peserta yang sudah hadir. Bu Nana berharap semoga kita bisa mendapatkan banyak pengetahuan tentang Matahari, bintang yang sangat dekat dengan kita dan erat kaitannya dengan kehidupan kita di Bumi.

Tibalah saatnya mulai menyapa para narasumber. Pak Dhani dan Mas Yusuf menyapa para peserta dengan senyuman hangat. Sebelum Pak Dhani menjelaskan materi, peserta diajak menjawab pertanyaan seputar Matahari dan Cuaca Antariksa.  Jawaban pertanyaan ini akan menjadi gambaran awal kepada pemateri tentang pengetahuan peserta tentang Matahari dan Cuaca Antariksa.

Pak Dhani mulai menjelaskan tentang struktur Matahari yang sangat kompleks. Matahari merupakan bola gas yang memiliki beberapa lapisan atmosfer, dimana setiap lapisannya memiliki temperatur dan fenomena yang beragam. Matahari yang kita lihat setiap hari merupakan bagian fotosfer. Pada bagian Fotosfer Matahari terdapat bintik hitam yang dikenal sebagai sunspot (bintik Matahari). Sedikit banyaknya bintik hitam yang diamati menandakan jumlah aktivitas magnetis di Matahari.

Pada tampilan layar, beliau menunjukkan foto perbandingan hasil pengamatan Matahari di tahun 1845 yang masih digambar secara manual dengan hasil pengamatan Matahari di tahun 2014 yang langsung bersumber dari satelit. Agar lebih menarik, Mas Yusuf menampilkan citra Matahari yang diamati langsung di Observatorium Bosscha.

Mas Yusuf menjelaskan bahwa sangat bahaya ketika melihat Matahari langsung dengan menggunakan mata. Jika ingin mengamati Matahari, harus menggunakan alat pengaman khusus yang bisa meredam cahaya Matahari menjadi 100 kali lebih lemah.

Citra Matahari yang ditampilkan ditangkap oleh kamera menggunakan seperangkat teleskop yang ada di Observatorium Bosscha. Pada Citra yang ditampilkan, kebetulan ada bintik Matahari.

Mas Yusuf menegaskan kembali kenapa bintik ini bisa terjadi, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Pak Dhani sebelumnya. Mas Yusuf juga mengatakan bahwa bintik Matahari bergerak dan berubah sangat dinamis mengikuti arah rotasi Matahari dengan menunjukkan perubahan konfigurasi bintik Matahari dari citra yang diambil hari ini dengan citra yang diambil pada hari kemarin.

Keterangan dari Pak Dhani bahwa pengamatan citra Matahari dan bintik Matahari diharapkan bisa dilakukan setiap hari karena bisa diamati secara remote. Pengamatan ini bukan hanya untuk melihat bagaimana bentuk Matahari semata tetapi akan berguna untuk prediksi cuaca antariksa.

Pak Dhani mulai menjelaskan Matahari pada lapisan lain, yaitu Kromosfer dan Korona yang masing-masing memiliki fenomena unik. Lapisan-lapisan tersebut hanya bisa diamati pada panjang gelombang tertentu. Acara semakin seru ketika Mas Yusuf menampilkan citra di setiap lapisan Matahari yang telah dijelaskan Pak Dhani sebelumnya.

Matahari sangat jauh dari Bumi kita, berjarak 150 juta kilometer. Namun aktivitas energi Matahari bisa sampai ke Bumi yang dapat mempengaruhi aktivitas kehidupan dan teknologi di Bumi. Fenomena ini yang disebut sebagai Cuaca Antariksa. Cuaca antariksa adalah cuaca yang diakibatkan oleh dinamika plasma, magnetik, dan radiasi (berupa badai) dari aktivitas Matahari yang terjadi di Bumi pada ketinggian diatas 50 kilometer.  Pak Dhani menerangkan bahwa dampak dari cuaca antariksa akan mempengaruhi antariksawan pada teknologi antariksa (termasuk satelit) dan aplikasinya baik di permukaan bumi ataupun antariksa. Cuaca antariksa juga berdampak pada kerusakan pembangkit listrik yang sering terjadi di daerah dekat kutub Bumi. Hal ini bisa merugikan manusia.

Tidak terasa sudah satu setengah jam Pak Dhani menemani kita untuk mengetahui lebih dalam tentang Matahari dan Cuaca Antariksa. Pak Dhani berpesan pada akhir materi bahwa kita sedang berada pada era eksplorasi antariksa, Indonesia jangan sampai tertinggal dari negara-negara lain, karena masih banyak yang perlu dikaji tentang Matahari dan aktivitasnya.

Setelah sesi pematerian, Luthfi sebagai pemandu acara menampilkan beberapa pertanyaan dari para peserta. Pertanyaan-pertanyaan dijawab oleh kedua narasumber dengan baik. Acara ditutup dengan sesi kuis untuk menguji seberapa paham peserta mengenai materi yang telah diberikan.

Di akhir acara Mas Yusuf menyampaikan pesan, “Matahari bukanlah sebuah benda statis, tetapi Matahari sebuah benda yang sangat aktif mulai dari inti sampai ke lapisan terluarnya. Ada banyak peristiwa besar yang terjadi di Matahari dan alam semesta. Kita harus sadar bahwa diri kita tidak ada apa-apanya dibanding alam semesta yang luas ini.”  [M. Hasan Faadillah]