Jumat, 14 September 2018, Program Studi Astronomi ITB kembali menyelenggarakan kolokium dengan pembicara empat mahasiswa yang baru saja mengikuti kegiatan summer school dan lokakarya di luar negeri. Kolokium berlangsung dari pukul 13.30 hingga 16.00 WIB di R. Seminar Astronomi, Gedung CAS lantai 6.

Sesi pertama diisi oleh Ade Nur Istiqomah (Ade) yang berbagi pengalamannya selama mengikuti Kathmandu Astrophysics School (KAS) 18 dari tanggal 10-17 Juni di Pokhara, Nepal. KAS kali ini diselenggarakan oleh International Astronomical Union Office of Astronomy for Development (IAU OAD) untuk kedua kalinya.

Peserta KAS 18. Foto: KAS Faculty

KAS 18 diikuti oleh 25 peserta yang berasal dari Nepal, India, Indonesia, dan Australia dengan latar belakang pendidikan yang cukup beragam seperti fisika, astronomi, dan sains komputasi. Dalam acara ini peserta dibagi menjadi beberapa kelompok di mana setiap kelompok beranggotakan dua orang. Kelompok tersebut kemudian diberikan tugas membuat proyek simulasi berdasarkan materi perkuliahan yang telah diberikan sebelumnya.

Ada pun materi perkuliahan yang diberikan meliputi Python, metode Monte-Carlo, kosmologi, radiasi bintang, dan pengembangan diri. Ade sendiri mengemban tugas untuk membuat simulasi deteksi galaksi jarak jauh dengan menerapkan prasyarat fungsi Schechter dalam simulasi Monte-Carlo.

Sesi kedua diisi oleh Elmo Refrindra dan Shinta Wulandari Solikhah yang mengikuti Optical Design Summer School 2018 dari tanggal 5 – 10 Agustus 2018 di Chiang Mai, Thailand. Program ini diselenggarakan sebagai hasil kerja sama antara NARIT dan Institut D’Optique Graduate School.

Dalam program ini peserta diberikan pemaparan mengenai konsep dari sistem optik, aberasi optik, desain optik, dan analisis sensitivitas. Di penghujung materi, peserta diberikan pelatihan tentang penggunaan perangkat lunak ZEEMAX.  ZEEMAX sendiri merupakan perangkat lunak yang meminimalisir aberasi sferis terhadap citra yang dihasilkan dari teleskop. Setiap lensa beserta sifat index biasnya tersedia dalam ZEEMAX selayaknya katalog sehingga kita bisa memilih sesuai kebutuhan. Dengan menggunakan ZEEMAX, maka kita bisa menggunakan sifat free optics pada lensa teleskop di mana permukaan lensa bukan cekung atau cembung. Melainkan fleksibel dengan menerapkan prinsip polinomial Zernike.

Sesi terakhir diisi oleh Arman Abdul Rochman yang berbagi pengalamannya selama mengikuti ITCA Colloquium 2018 dari 23-27 Juli 2018 di Nha Thrang Observatory, Nha Thrang, Vietnam. ITCA tahun ini diselenggarakan untuk kedua kalinya sebagai hasil kerja sama antara NARIT dan VNSC Astronomy and Astrophysics Workshop.

Peserta ITCA Colloquium 2018. Foto: Royal Thai Embassy, Hanoi

Adapun tujuan dari acara ini yaitu memberikan pembekalan tentang teknik pengajaran dalam bidang astronomi dan astrofisika. Oleh karena itu sebagian besar peserta dari acara ini adalah pengajar dan edukator astronomi. Materi yang diberikan antara lain konsep dasar menganai fisika modern, kosmologi, nukleosintesis, galaksi, pembentukan dan evolusi bintang dan planet, medium antar bintang (interstellar medium), sistem Tata Surya, eksoplanet, teknik observasi, dan instrumentasi astrofisika. Di samping pemberian materi dasar peserta juga diberikan pengenalan mengenai perangkat lunak Stellarium dan juga Mitaka. [sarashanti]